Obesitas Tak Cukup Diatasi dengan Diet, Food Noise Ikut Menahan Kontrol Makan

Author: Redaksi Android62

Di tengah upaya menurunkan berat badan, banyak orang justru berhadapan dengan dorongan makan yang terasa terus muncul. Kondisi ini dikenal sebagai food noise, yaitu pikiran tentang makanan yang datang berulang meski tubuh belum benar-benar membutuhkan asupan.

Fenomena tersebut menjadi penting karena tidak hanya membuat seseorang ingin makan lebih sering, tetapi juga dapat mendorong makan berlebihan. Setelah itu, rasa bersalah, cemas, dan sulit menjaga pola makan secara konsisten sering ikut muncul.

Dorongan makan yang tidak sekadar soal lapar

Food noise berbeda dari lapar biasa karena sumbernya berasal dari pikiran yang terus kembali ke makanan. Dalam penjelasan medis, kondisi ini berkaitan dengan cara otak merespons makanan, stres, kebiasaan, dan lingkungan secara bersamaan.

Kondisi ini juga berhubungan dengan mekanisme neuroendokrin tubuh yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Akibatnya, dorongan untuk makan bisa tetap kuat walau tubuh sebenarnya belum memerlukan tambahan energi.

Di Indonesia, isu ini relevan karena negara ini berada di peringkat ketiga prevalensi obesitas tertinggi di Asia Tenggara menurut World Obesity Atlas 2022. Angka tersebut memperlihatkan bahwa obesitas bukan persoalan kecil, terutama ketika kontrol makan terus diganggu oleh dorongan yang sulit diabaikan.

Obesitas tidak sesederhana soal disiplin

Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PP PDGKI), Iflan Nauval, menilai banyak orang dengan obesitas sebenarnya sudah berusaha keras. Namun, hambatan yang mereka hadapi tidak selalu berkaitan dengan kurangnya disiplin.

Ia menekankan bahwa obesitas sangat dipengaruhi oleh biologi tubuh yang kompleks. Karena itu, penyederhanaan obesitas sebagai kegagalan pribadi dinilai sudah tidak tepat lagi.

Pemahaman tentang food noise ikut memperkuat pandangan tersebut. Saat pikiran tentang makanan terus muncul, pengelolaan berat badan menjadi jauh lebih rumit daripada sekadar menahan diri untuk tidak makan.

Pendekatan lama dinilai belum memadai

Selama ini, obesitas kerap ditangani dengan hitung kalori dan pembatasan makanan. Cara tersebut memang penting, tetapi dinilai belum cukup untuk menjawab pengaruh biologis yang mengatur nafsu makan dan rasa kenyang.

Iflan menegaskan bahwa intervensi gaya hidup dan terapi medis perlu berjalan bersama. Fokus penanganan pun tidak lagi hanya mengejar angka di timbangan, melainkan juga menjaga fungsi organ dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pergeseran ini membuat penanganan obesitas bergerak dari sekadar diet menuju pendekatan medis yang lebih menyeluruh. Perubahan pola hidup tetap dibutuhkan, tetapi tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan lain ketika hambatan biologis masih kuat.

Terapi yang menyasar pusat nafsu makan

Salah satu inovasi medis yang disebut dalam penanganan obesitas adalah GLP-1 receptor agonist atau GLP-1 RA. Terapi ini bekerja pada pusat pengaturan nafsu makan di otak untuk membantu mengatur sinyal lapar dan kenyang.

Secara klinis, terapi ini dapat menurunkan rasa lapar, mengurangi keinginan makan, dan meningkatkan rasa kenyang. Dengan begitu, asupan kalori dapat berkurang dan dorongan makan berlebih, termasuk food noise, ikut mereda.

Terapi GLP-1 RA Novo Nordisk juga disebut mendukung penurunan berat badan yang signifikan. Dalam keterangan yang dikutip, 1 dari 3 pasien dapat kehilangan lebih dari 20% berat badan.

Pendekatan tersebut juga menekankan quality weight loss, yakni penurunan massa lemak secara efektif sambil mempertahankan massa otot. Selain itu, terapi ini berpotensi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 20%.

Peran bantuan medis makin ditekankan

Obesitas tidak hanya dipengaruhi oleh perilaku makan, tetapi juga oleh gangguan pada sistem yang mengatur lapar dan kenyang. Karena itu, penanganan yang hanya mengandalkan perubahan gaya hidup dapat membatasi akses terhadap terapi medis yang sebenarnya dibutuhkan pada kondisi tertentu.

Riyanny Meisha Tarliman selaku Associate Director, Clinical, Medical, and Regulatory, Novo Nordisk Indonesia, menilai penting bagi individu dengan obesitas untuk beralih dari upaya mandiri ke bantuan medis profesional. Ia menekankan bahwa obesitas merupakan penyakit kompleks yang perlu ditangani dengan pendekatan berbasis sains.

Dengan pemahaman seperti ini, food noise tidak lagi dilihat sebagai sekadar dorongan makan biasa. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan obesitas membutuhkan gabungan intervensi gaya hidup, dukungan medis, dan strategi yang menyentuh mekanisme biologis agar kontrol makan dan kualitas hidup pasien dapat membaik.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru