Sebanyak 16 warga negara Indonesia dipastikan meninggal dunia dalam insiden kapal tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Perak, Malaysia. Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) Negeri Perak menyebut total korban yang ditemukan mencapai 39 orang, terdiri dari 23 selamat dan 16 meninggal dunia.
Temuan itu muncul setelah operasi pencarian berlangsung selama enam hari dan menyisir sejumlah titik perairan. Skala kejadian ini sempat belum jelas pada awal pencarian, namun data terbaru membuat gambaran tragedi menjadi lebih tegas.
Direktur Maritim Negara Bagian Perak, Kapten Maritim Mohd Shukri Khotob, mengatakan jumlah awal yang sempat disebut, yaitu 37 korban, belum akurat. Setelah pencarian berjalan lebih jauh, petugas menemukan total korban yang lebih besar dari perkiraan awal itu.
Operasi di lapangan melibatkan unsur MMEA, Tentara Laut Diraja Malaysia, dan kapal nelayan setempat. Mereka bergerak menyisir perairan Pulau Pangkor, Pulau Kelumpang, Pulau Sangga Kechil, hingga Pulau Buloh untuk memastikan tidak ada korban lain yang tertinggal.
Pada hari pertama pencarian, petugas menemukan para korban dalam kondisi terapung di perairan terbuka. Kondisi itu membuat upaya penelusuran awal menjadi lebih sulit, termasuk untuk mengetahui asal kapal yang membawa para WNI tersebut.
Hingga saat ini, identitas kapal yang digunakan belum dipastikan oleh otoritas maritim Malaysia. Para korban juga masih diduga sebagai pendatang asing tanpa izin, tetapi status itu belum dapat dipastikan dan masih memerlukan penelusuran lanjutan.
Seluruh jenazah yang sudah dievakuasi telah diserahkan kepada kepolisian Malaysia. Dari sana, jenazah dibawa ke Rumah Sakit Teluk Intan dan Rumah Sakit Taiping untuk proses pemeriksaan medis dan identifikasi.
Fokus petugas kini tidak hanya mencari kemungkinan korban lain, tetapi juga melengkapi informasi tentang asal usul kapal dan kronologi kejadian. MMEA menyatakan operasi pencarian dan penyelamatan tetap berjalan agar tidak ada titik yang terlewat di kawasan perairan tersebut.
Pihak berwenang juga meminta masyarakat maritim dan nelayan setempat segera melapor bila menemukan petunjuk atau benda mencurigakan di sekitar lokasi pencarian. Tragedi di Pangkor ini kembali menunjukkan tingginya risiko pelayaran gelap di perairan terbuka, terutama ketika identitas kapal dan status penumpang belum jelas.
Source: mediaindonesia.com






