Wabah Ebola terbaru kembali menunjukkan bahwa ancaman virus ini belum benar-benar lepas dari Afrika. Di Republik Demokratik Kongo dan Uganda, penularan masih bergerak di tengah kombinasi satwa liar, hutan tropis, dan kebiasaan masyarakat yang membuat pengendalian wabah berjalan jauh lebih rumit.
Organisasi Kesehatan Dunia menetapkan situasi di dua negara itu sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Penetapan tersebut menegaskan bahwa Ebola tetap menjadi persoalan serius, terutama ketika kasus dan kematian di Afrika Tengah masih terus bertambah.
Salah satu alasan Ebola sulit diputus adalah sifatnya sebagai penyakit zoonosis. Virus ini berpindah dari hewan ke manusia, dan penelitian selama bertahun-tahun menempatkan kelelawar buah sebagai kandidat paling kuat untuk reservoir alami.
Di antara spesies yang paling sering disorot adalah Eidolon helvum, kelelawar buah yang tersebar luas di Afrika Sub-Sahara. Spesies ini diketahui memiliki antibodi terhadap Ebola tanpa menunjukkan gejala, sehingga bisa membawa virus tanpa mudah terdeteksi.
Pola kemunculan wabah selama puluhan tahun juga memperlihatkan kaitan yang kuat dengan habitat kelelawar buah. Sebarannya mengikuti kawasan dari selatan Gurun Sahara hingga utara Zambia dan Angola, wilayah yang memperkuat dugaan bahwa ekologi hutan tropis Afrika mendukung siklus alami virus.
Ketika tutupan hutan berubah, risiko kontak antarmanusia dan satwa liar ikut naik. Pembukaan hutan untuk pertanian, jalan, atau aktivitas lain membuat batas yang sebelumnya jelas menjadi lebih tipis.
Kondisi itu penting karena kelelawar buah dapat hidup baik di hutan yang terpecah maupun di lingkungan agroforestri. Akibatnya, interaksi antara manusia dan satwa yang berpotensi membawa virus menjadi lebih sering terjadi.
Sejumlah kajian yang dikutip WHO dan lembaga konservasi menunjukkan banyak perpindahan virus dari hewan ke manusia muncul di wilayah dengan kerusakan hutan tinggi. Dalam konteks Ebola, hilangnya tutupan hutan disebut sebagai faktor risiko yang sangat kuat.
Risiko lain datang dari kebiasaan berburu dan konsumsi bushmeat yang masih umum di banyak wilayah Afrika. Bagi banyak keluarga, daging satwa liar tetap menjadi sumber protein dan penghasilan.
Masalah muncul ketika hewan yang diburu termasuk spesies berisiko membawa Ebola. Food and Agriculture Organization menyebut kelompok berisiko itu mencakup kelelawar buah, beberapa primata, dan kijang hutan.
Proses seperti berburu, menguliti, memotong, hingga menjual daging di pasar justru menjadi titik rawan penularan. Pada tahap itu, manusia bisa bersentuhan langsung dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi sebelum daging sempat dimasak.
Memasak dengan suhu tinggi atau pengasapan memang dapat menurunkan risiko. Namun, penularan kerap terjadi lebih awal, yakni saat hewan ditangani secara langsung setelah diburu.
Setelah penularan awal terjadi, laju wabah sering dipercepat oleh faktor sosial dan budaya. WHO menyoroti praktik pemakaman tradisional sebagai salah satu mata rantai yang paling sulit dihentikan dalam wabah Ebola.
Jenazah penderita Ebola mengandung konsentrasi virus yang tinggi. Kontak langsung dengan tubuh orang yang meninggal dapat memicu penularan, terutama jika keluarga memandikan jenazah atau menyentuhnya dalam prosesi duka.
WHO mencatat hampir 60% kasus Ebola di Guinea berkaitan langsung dengan praktik pemakaman tradisional. Di Liberia dan Sierra Leone, kebiasaan serupa juga pernah menjadi tantangan besar bagi petugas kesehatan.
Wabah juga jauh lebih berbahaya ketika sistem kesehatan tidak siap. Situasi besar di Afrika Barat pada 2014–2016 memperlihatkan bagaimana keterbatasan fasilitas, tenaga medis, dan laboratorium dapat mempercepat krisis.
Perbatasan yang dekat, mobilitas penduduk, dan pendanaan kesehatan yang rendah membuat virus lebih mudah bergerak lintas wilayah. Di sisi lain, komunikasi kesehatan yang tidak efektif sering memicu salah paham di masyarakat.
Stigma terhadap Ebola ikut memperburuk keadaan. Sebagian pasien memilih menyembunyikan gejala mereka, dan keterlambatan deteksi membuat rantai penularan semakin sulit diputus.
Faktor alam lain yang ikut menjaga siklus Ebola tetap berjalan adalah iklim tropis Afrika. Musim kemarau tahunan yang berlangsung sekitar Desember hingga Mei menjadi periode berkembang biak kelelawar buah, sehingga peluang interaksi antarsatwa meningkat.
Model ekologi berbasis data historis kasus Ebola periode 2014–2022 menunjukkan wilayah dengan risiko tertinggi berada di kawasan dengan variasi suhu musiman yang relatif kecil. Ciri itu cocok dengan sabuk ekuatorial Afrika tropis.
Artinya, lingkungan alami di Afrika bukan hanya menyediakan habitat bagi reservoir virus, tetapi juga membantu mempertahankan siklusnya. Karena itu, Ebola terus muncul kembali di wilayah yang sama meski upaya pengendalian sudah dilakukan berulang kali.
Dalam data WHO, hingga Sabtu (16/5/2026) tercatat delapan kasus terkonfirmasi laboratorium, 246 kasus suspek, dan 80 kematian suspek di Provinsi Ituri, DRC. Wilayah terdampak mencakup Bunia, Rwampara, dan Mongbwalu.
Situasi itu kemudian meluas setelah dua kasus terkonfirmasi juga ditemukan di Kampala, Uganda, pada individu yang melakukan perjalanan dari DRC. CDC bahkan mencatat peningkatan menjadi 10 kasus terkonfirmasi, 336 kasus suspek, dan 88 kematian di DRC.
Yang membuat wabah kali ini lebih rumit adalah jenis virus yang terlibat, yakni varian Bundibugyo. Varian ini berbeda dari strain Zaire yang selama ini lebih sering dikaitkan dengan epidemi besar Ebola.
Untuk varian Bundibugyo, belum tersedia vaksin maupun terapi antivirus yang disetujui khusus. Karena itu, penanganan masih bertumpu pada terapi suportif dan pengendalian penularan.
Di banyak wilayah Afrika, gabungan antara ekologi hutan, satwa liar, kebiasaan hidup, dan keterbatasan layanan kesehatan membuat Ebola terus menemukan ruang untuk muncul kembali. Selama faktor-faktor itu belum terputus, virus ini masih sulit benar-benar dijauhkan dari kawasan tersebut.
