Pembiasaan Sejak Dini Bikin Anak Lebih Akrab dengan Al-Qur’an, Bukan Dipaksa Mengaji

Author: Redaksi Android62

Kebiasaan mengaji pada anak ternyata lebih mudah tumbuh ketika rumah lebih dulu menghadirkannya sebagai rutinitas yang akrab, bukan sebagai kewajiban yang menekan. Karena itu, orang tua disarankan tidak buru-buru memaksa anak cepat bisa, melainkan membiasakan telinga dan hati anak sejak dini dengan bacaan Al-Qur’an.

Ustaz muda sekaligus hafiz 30 juz asal Wonosobo, Jawa Tengah, Widyan Zulda Mahira atau Dama, menilai cara paling efektif justru ada pada pembiasaan yang konsisten. Anak yang sejak awal sering mendengar murotal dinilai akan lebih siap saat memasuki fase belajar mengaji secara aktif.

Pembiasaan bisa dimulai sejak masa kandungan

Dama menjelaskan, pengenalan Al-Qur’an dapat dimulai bahkan ketika anak masih berada dalam kandungan. Ia menyebut usia 4 bulan sebagai momen yang bisa dimanfaatkan untuk memperdengarkan murotal secara rutin agar bayi terbiasa mendengar bacaan Al-Qur’an.

Pandangan itu ia kaitkan dengan Hadits Arbain no. 4 karya Imam an-Nawawi yang menyebut pada usia 4 bulan janin telah ditiupkan ruh. Ia juga menghubungkannya dengan penjelasan yang kerap disandingkan dengan penelitian tentang mulai berfungsinya pendengaran bayi di dalam kandungan.

Setelah lahir, kebiasaan mendengarkan bacaan Al-Qur’an dinilai perlu terus dijaga setiap hari. Menurut Dama, konsistensi orang tua penting agar Al-Qur’an tidak terasa asing ketika anak mulai memasuki masa belajar yang lebih aktif.

Usia 2 tahun ke atas dinilai lebih siap untuk belajar aktif

Untuk tahap belajar mengaji secara langsung, Dama menilai usia 2 tahun ke atas menjadi fase yang ideal. Pada usia ini, anak mulai tertarik pada huruf, bunyi baru, dan kebiasaan yang sudah dibangun di rumah sejak sebelumnya.

Ia menjelaskan, anak usia 0 sampai 2 tahun umumnya lebih banyak menyerap lewat penglihatan dan perasaan. Ketika beranjak 2 tahun ke atas, anak mulai mampu mencerna rutinitas yang sudah akrab, termasuk kebiasaan mendengarkan murotal yang dilakukan sejak dini.

Fase 0 hingga 5 tahun juga sering disebut sebagai golden period atau periode emas perkembangan anak. Pada masa ini, otak tumbuh sangat pesat, sehingga pembiasaan yang baik dinilai dapat memberi dampak besar pada perkembangan bahasa, motorik, dan sosial-emosional anak.

Dalam konteks itu, mengenalkan Al-Qur’an sejak kecil tidak hanya ditujukan agar anak cepat bisa membaca. Prosesnya juga dipandang sebagai bagian dari pembentukan fondasi kebiasaan dan kedekatan spiritual di rumah.

Belajar anak perlu dibuat ringan dan menyenangkan

Dama menegaskan bahwa metode belajar anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Anak perlu diajak dengan pendekatan yang sesuai dengan dunia mereka, termasuk melalui motivasi yang mudah dipahami secara logis.

Bentuk motivasi itu bisa dibuat sederhana, misalnya hadiah kecil atau janji kegiatan menyenangkan setelah anak mencapai target tertentu. Contohnya, anak diajak berjalan-jalan setelah berhasil menghafal surat tertentu atau menuntaskan tahapan belajar yang sudah disepakati.

Pendekatan seperti ini dinilai dapat memantik semangat anak tanpa membuat mereka merasa tertekan. Seiring waktu, anak diharapkan tidak hanya bergerak karena iming-iming hadiah, tetapi juga mulai memahami nilai belajar Al-Qur’an dengan lebih dalam.

Suasana belajar pun perlu dijaga tetap ringan. Orang tua dapat menghadirkan metode dan media belajar yang kreatif agar kegiatan mengaji terasa menyenangkan, bukan menjadi beban harian.

Peran orang tua menjadi penentu utama

Menurut Dama, orang tua adalah support system paling penting bagi anak. Setiap keluarga boleh memakai strategi berbeda, karena orang tualah yang paling mengenal karakter, minat, dan respons anak masing-masing.

Ia juga mengingatkan bahwa rumah adalah lingkungan adaptasi terbesar bagi anak. Karena itu, pendidikan Al-Qur’an tidak cukup diserahkan sepenuhnya kepada guru atau lembaga luar tanpa keterlibatan aktif dari ayah dan ibu.

Bentuk keterlibatan itu bisa muncul lewat pendampingan yang konsisten dan kerja sama antara kedua orang tua. Anak akan lebih mudah mencintai Al-Qur’an jika kebiasaan itu hidup di rumah, bukan hanya hadir saat jadwal belajar formal.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah tadarus keluarga setelah salat Subuh atau Maghrib. Rutinitas semacam ini dinilai dapat memperkuat ikatan spiritual sekaligus membentuk kebiasaan baik sejak kecil.

Dama juga menekankan pentingnya menanamkan kecintaan pada Al-Qur’an sebagai investasi iman jangka panjang. Ia merujuk pada hadis sahih riwayat Al-Bukhari yang menyebut, “Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.”

Berita Terbaru