Pameran “Unspoken Dialogue” di Bog Art Space, Denpasar, menempatkan air sebagai pusat pembacaan, bukan sekadar elemen latar dalam foto. Lewat karya Lucas Leo Catalano, air tampil sebagai medium yang menghubungkan pengalaman visual dengan lapisan makna budaya Bali.
Pendekatan itu membuat setiap karya tidak hanya berbicara soal bentuk, tetapi juga soal cara pandang. Dalam pameran ini, air dibaca sebagai sesuatu yang bergerak di antara dunia yang terlihat dan yang tidak terlihat, sejalan dengan pemahaman Bali tentang sekala dan niskala.
Kurator pameran, Tjandra Hutama, menjelaskan bahwa Lucas menghadirkan catatan perjalanan tentang air dalam bentuk dokumentasi visual yang terbuka untuk ditafsirkan. Ia sengaja meminimalkan kehadiran manusia agar air tampak lebih dominan sebagai subjek yang seolah berbicara sendiri.
Di sejumlah karya, cahaya memegang peran penting. Pantulan, tetesan, aliran, dan genangan ditangkap lewat permainan cahaya yang memperkuat kesan bahwa air menjadi penghubung antara dunia fisik dan dunia metafisik.
Tjandra menyebut teknik pembiasan cahaya atau refraction yang digunakan Lucas bukan sekadar percobaan teknis. Dalam pembacaan itu, teknik tersebut menjadi pernyataan artistik tentang bagaimana air dapat bertindak sebagai lensa yang mendistorsi realitas di Bali.
Makna itu terasa dekat dengan cara masyarakat Bali memandang air dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah spiritual. Air bergerak dari hulu ke hilir sebagai unsur suci yang menghubungkan gunung dan laut, sekaligus hadir dalam ritual, penyembuhan, dan kehidupan sosial.
Di tingkat yang lebih luas, air tidak diperlakukan sebagai elemen alam biasa. Air dipahami sebagai sumber kehidupan yang ikut membentuk tatanan sosial dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan, sehingga posisinya melampaui fungsi praktis.
Hubungan air dengan praktik keagamaan dan pemurnian juga menjadi bagian penting dari pembacaan tersebut. Karena itu, kehadiran air dalam karya Lucas memberi ruang bagi tafsir tentang keterhubungan antara pengalaman yang nyata dan yang tak kasatmata.
“Unspoken Dialogue” dibuka resmi di Bog Art Space dan mendapat sambutan dari seniman, budayawan, aktivis lingkungan, fotografer, hingga masyarakat umum. Acara pembukaan dilakukan oleh mantan Konsul Kehormatan Negara Italia untuk Indonesia di Bali, Pino Confessa.
Lucas Leo Catalano lahir pada 1985 dan memiliki darah campuran Indonesia-Italia. Ia kini tinggal di Perth, Australia, dan kehadirannya di Bog Art Space menandai pembuka program kolaborasi internasional yang dirancang ruang seni tersebut.
Founder Bog Art Space, Jango Pramartha, menyebut pameran ini bukan hadir secara tiba-tiba. Menurutnya, kerja sama dengan Lucas sudah dirancang sejak pameran “Drawing Cosmic Mantra” yang melibatkan Made Wianta dan Paul Trinidad dengan kurasi Yudha Bantono tiga tahun silam.
Jango berharap Bog Art Space dapat menjadi laboratorium kebudayaan kecil di Bali. Ruang itu diharapkan memberi tempat bagi eksperimen kreatif dari seniman Bali, Indonesia, maupun internasional.
Pameran ini didukung Jimbaran Hijau, Danes Art Veranda, Niti Mandala, dan Bali Art Focus. Agenda berlangsung selama satu bulan hingga 24 Juni 2026, disertai diskusi fotografi pada 1 Juni 2026 di lokasi yang sama.
Source: mediaindonesia.com