Pensiun Buruh Perkebunan Jabar Hanya Rp 300 Ribu Sebulan, Dedi Mulyadi Minta Kebun Dipulihkan

Author: Redaksi Android62

Upah pekerja kebun teh di Jawa Barat kembali jadi sorotan setelah Dedi Mulyadi menilai kesejahteraan mereka masih tertinggal jauh. Ia menggambarkan situasi itu sebagai ironi, karena di saat industri pariwisata dan keuntungan pemilik modal terus bergerak, para pekerja perkebunan tetap hidup pas-pasan.

Dedi menyebut pensiun rata-rata pekerja perkebunan hanya sekitar Rp 300.000 per bulan. Ia juga menyoroti pekerja harian yang disebut hanya menerima sekitar Rp 30.000 per hari, bahkan ada yang lebih rendah dari itu.

Sorotan tersebut disampaikan Dedi saat membuka Rapimnas Soksi di sebuah hotel di Jalan Dago Pakar Raya, Dago Pakar, Bandung. Dalam kesempatan itu, ia tidak hanya berbicara soal penghasilan pekerja, tetapi juga kondisi kawasan perkebunan yang menurutnya ikut mengalami kemunduran.

Kemiskinan di wilayah selatan Jabar ikut disorot

Dedi mengaitkan persoalan perkebunan dengan kemiskinan di sejumlah wilayah Jawa Barat bagian selatan. Ia menyebut Sukabumi, Cianjur Selatan, Garut Selatan, hingga Tasikmalaya sebagai kawasan yang ikut terdampak.

Menurutnya, perubahan fungsi lahan dari perkebunan teh dan kawasan hutan menjadi perkebunan sayur ikut memperburuk keadaan. Pergeseran itu dinilai bukan hanya menekan kualitas lingkungan, tetapi juga membuat kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar semakin sulit.

Ia juga menilai daya dukung lingkungan di kawasan perkebunan turut menurun seiring perubahan pengelolaan lahan. Dari pandangan itu, masalah perkebunan tidak lagi hanya soal produksi, tetapi juga soal keseimbangan ekosistem dan kehidupan warga.

Pemprov Jabar dorong pemulihan kebun

Di tengah sorotan itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat disebut tengah memulihkan areal perkebunan untuk memperkuat konservasi. Dedi menegaskan bahwa konservasi menjadi prioritas utama dalam pandangannya terhadap masa depan kawasan perkebunan.

Ia juga menyebut masyarakat mulai dilibatkan untuk kembali menanam teh di kawasan pegunungan dan lahan perkebunan yang selama ini tidak dikelola optimal oleh PTPN. Masyarakat yang terlibat disebut mendapat upah dari pemerintah provinsi.

Langkah itu diharapkan membuat kawasan perkebunan kembali kokoh dalam jangka panjang. Pada saat yang sama, warga tetap mendapat penghasilan dari pekerjaan yang disiapkan pemerintah provinsi.

Rumah karyawan tua akan diarahkan jadi homestay

Selain pemulihan kebun, Pemprov Jawa Barat juga berencana merenovasi rumah-rumah tua milik karyawan perkebunan menjadi rumah panggung. Bangunan itu akan difungsikan sebagai homestay untuk mendukung pariwisata.

Dedi menjelaskan skema tersebut dapat memberi tambahan penghasilan bagi karyawan perkebunan. Ia mencontohkan, meski memetik teh hanya menghasilkan Rp 30.000, mereka masih bisa memperoleh pendapatan lain saat ada wisatawan yang datang dan menginap.

Bagi Dedi, kondisi ini menunjukkan ketimpangan yang nyata di lapangan. Di satu sisi, kawasan perkebunan dan pariwisata bisa menghasilkan keuntungan besar, tetapi di sisi lain pekerja dan warga sekitar justru tetap berada dalam kondisi marginal.

Ia menegaskan bahwa hutan harus tetap terjaga, perkebunan harus tetap terkelola, dan rakyat harus sejahtera. Dari situ, penataan ulang kawasan perkebunan dinilai perlu agar manfaatnya tidak hanya mengalir ke pemilik modal, tetapi juga ke pekerja dan masyarakat di sekitarnya.

Source: bandung.kompas.com
Berita Terbaru