Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa dunia usaha tidak boleh lagi mengandalkan cara kerja lama yang melanggar aturan. Di hadapan peserta Munas HIPMI XVIII di Bandar Lampung, ia meminta para pengusaha menatap masa depan dengan tata kelola yang lebih bersih dan patuh hukum.
Prabowo menekankan bahwa keberhasilan bisnis harus dibangun di atas manajemen perusahaan yang tertib. Ia juga mengingatkan bahwa pada era sekarang, segala bentuk kecurangan jauh lebih mudah terungkap karena perkembangan teknologi.
Teknologi membuat pelanggaran lebih mudah dibaca
Dalam sambutannya, Prabowo menyinggung kehadiran kecerdasan buatan atau AI yang dapat membaca dokumen dalam waktu singkat. Menurutnya, kondisi itu membuat upaya menyembunyikan pelanggaran menjadi semakin sulit.
“Sekarang ada teknologi. Sekarang ada AI, ada kecerdasan. Sekarang semua dokumen, setebal ini bisa dibaca dalam 5 menit. Kontrak setebal ini 5 menit,” ucapnya.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa dunia usaha saat ini tidak lagi bisa bekerja dengan pola lama. Transparansi, menurut Prabowo, menjadi tuntutan baru yang harus dipahami para pelaku usaha.
Pengusaha diminta tidak membawa dosa masa lalu
Prabowo juga melontarkan sindiran keras kepada para pengusaha Indonesia. Ia menyebut mereka memiliki banyak dosa di masa lalu, tetapi masa lalu itu tidak perlu terus dibawa ke depan.
“Pengusaha Indonesia banyak dosanya. Betul? Lo nggak bisa bohong sama gue, gue sudah ngerti. Itu tokoh-tokoh HIPMI gue kenal dari kecil,” kata Prabowo dalam sambutannya.
Meski bernada tajam, pesan yang disampaikan bukanlah ajakan untuk terus mengungkit masa lalu. Prabowo justru menyatakan bahwa dosa-dosa lama bisa ditutup selama langkah ke depan dijalankan dengan benar.
“Tapi sudahlah ya nggak apa-apa dosa kita tutup. Kita bangkit ke depan. Sekarang, jangan coba-coba melanggar hukum,” ujar Prabowo.
Arah bisnis harus berpihak pada kepentingan nasional
Di forum pengusaha muda itu, Prabowo juga meminta agar dunia usaha ikut menguasai dan mengendalikan sumber daya ekonomi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Ia menilai arah pembangunan ekonomi tidak boleh hanya menguntungkan kelompok tertentu.
Karena itu, para pengusaha diminta menjaga kepentingan nasional melalui praktik bisnis yang sehat dan bertanggung jawab. Dalam pandangan Prabowo, perbaikan ke depan harus dimulai dari kepatuhan hukum dan cara kerja yang lebih tertib.
“Jadi saudara-saudara, mari kita raih masa depan yang baik. Kita kuasai, kita kendalikan semua untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat kita,” sambungnya.
Pernyataan Prabowo di Munas HIPMI XVIII memperlihatkan dua pesan sekaligus. Di satu sisi, ia memberi teguran keras atas praktik masa lalu, dan di sisi lain ia mendorong pengusaha Indonesia membangun masa depan yang lebih bersih, transparan, dan sejalan dengan kepentingan rakyat.
