Meski angka pengangguran terbuka terlihat rendah dan partisipasi angkatan kerja terus meningkat, kualitas pekerjaan di Indonesia masih menyimpan banyak kerentanan. Banyak orang memang tercatat bekerja, tetapi tidak semuanya berada dalam pekerjaan yang memberi pendapatan layak, perlindungan sosial, atau peluang naik kelas ekonomi.
Di titik inilah pasar kerja tampak kuat di permukaan, tetapi rapuh ketika dilihat lebih dekat. Statistik dapat menunjukkan mayoritas penduduk usia kerja terserap ke aktivitas ekonomi, namun itu belum otomatis berarti pekerjaan yang tercipta bersifat produktif dan aman bagi pekerja.
Mutu kerja lebih penting daripada sekadar jumlah orang yang bekerja
Masalah utama ketenagakerjaan bukan hanya soal ada atau tidaknya lapangan kerja. Yang lebih menentukan adalah apakah pekerjaan itu memberi stabilitas, penghasilan yang memadai, dan perlindungan yang cukup.
Ketika keberhasilan pasar kerja hanya diukur dari banyaknya orang yang bekerja, kondisi sejati para pekerja bisa tertutup oleh angka yang menenangkan. Seseorang bisa tercatat bekerja, tetapi tetap hidup dengan pendapatan yang tidak pasti dan ruang perbaikan hidup yang sempit.
Sebagian besar kerentanan itu muncul karena banyak pekerja masih bertumpu pada sektor informal. Di sektor ini, produktivitas cenderung rendah dan jaminan kerja terbatas, sehingga mobilitas ekonomi jangka panjang menjadi sulit dijangkau.
Pertumbuhan ekonomi belum tentu menyerap tenaga kerja secara baik
Kinerja ekonomi yang bergerak naik tidak selalu sejalan dengan penciptaan pekerjaan yang berkualitas. Aktivitas ekonomi memang bisa tumbuh, tetapi serapan tenaga kerjanya belum tentu cukup produktif atau inklusif.
Kondisi seperti ini dikenal sebagai pertumbuhan yang tidak menciptakan lapangan kerja secara memadai, atau jobless growth. Dalam situasi tersebut, ekonomi dapat berkembang tanpa diikuti perbaikan berarti pada mutu kesempatan kerja.
Pekerjaan yang lahir dari pertumbuhan semacam ini sering terkonsentrasi di sektor berproduktivitas rendah. Akibatnya, penyerapan tenaga kerja terjadi, tetapi tidak menghasilkan fondasi yang kuat untuk kenaikan kesejahteraan pekerja dalam jangka panjang.
Bonus demografi tidak otomatis menjadi keuntungan
Indonesia berada dalam fase krusial bonus demografi 2026–2029, ketika jumlah penduduk usia kerja menjadi sangat besar. Potensi ini sering dipandang sebagai modal pembangunan yang penting.
Namun, jumlah penduduk besar bukanlah jaminan kemajuan. Bonus demografi hanya berguna jika sistem ekonomi mampu mengarahkan tenaga kerja ke aktivitas yang produktif.
Dalam banyak kasus, populasi besar justru lebih sering berperan sebagai pasar konsumsi daripada kekuatan produksi. Karena itu, bonus demografi perlu dibaca sebagai peluang yang masih harus dikelola, bukan hasil yang sudah pasti.
Masalahnya sering dibaca terlalu sederhana
Salah satu kekeliruan dalam membaca pasar kerja adalah kebiasaan menyalahkan individu. Pekerja yang gagal memperoleh pekerjaan layak kerap dianggap kurang kompeten, kurang adaptif, atau kurang terampil.
Pembacaan seperti itu mengabaikan struktur ekonomi dan institusional yang membatasi pilihan kerja. Individu tidak bergerak sendirian, melainkan berada dalam sistem yang menentukan apakah pekerjaan produktif tersedia atau tidak.
Jika masalah sistemik dibaca sebagai kegagalan personal, kebijakan yang dihasilkan bisa meleset dari akar persoalan. Akibatnya, solusi yang dibuat berisiko hanya mengulang masalah dalam bentuk berbeda.
Perlu ruang yang lebih luas di luar pasar domestik
Artikel referensi menekankan bahwa perluasan kesempatan kerja tidak cukup bertumpu pada pasar dalam negeri. Salah satu arah yang dianggap penting adalah mengoptimalkan pasar kerja global melalui penempatan tenaga kerja ke luar negeri secara terstruktur.
Dalam kerangka itu, migrasi tenaga kerja tidak hanya dipandang sebagai persoalan sosial. Jalur tersebut juga dapat menjadi instrumen ekonomi karena membuka pendapatan, transfer keterampilan, dan mobilitas sosial jika dikelola sebagai strategi negara.
Sejumlah negara seperti Filipina dan India disebut memanfaatkan migrasi tenaga kerja sebagai bagian dari strategi berbasis remitansi. Indonesia dinilai memiliki potensi serupa, tetapi pendekatannya masih parsial dan belum menyatu dalam desain besar pembangunan ketenagakerjaan.
Selama arah kebijakan belum bergeser dari sekadar serapan kerja menjadi pekerjaan yang benar-benar produktif, bonus demografi akan tetap menyimpan dua wajah sekaligus: peluang besar di atas kertas dan kerentanan nyata di lapangan. Pasar kerja bisa terlihat tenang dari luar, tetapi kualitas pekerjaan yang rapuh tetap menjadi batas utama bagi masa depan ekonomi banyak pekerja Indonesia.
