Tiga Kapal Perang AS Ditembaki Iran Di Selat Hormuz, Trump Tetap Menyebut Gencatan Senjata Berlaku

Author: Redaksi Android62

Di tengah ketegangan di Selat Hormuz, Donald Trump memilih merespons serangan Iran ke tiga kapal perang Amerika Serikat dengan nada meremehkan. Ia menyebut insiden itu sebagai serangan ringan dan menegaskan upaya tersebut berhasil digagalkan tanpa menimbulkan kerusakan pada armada AS.

Sikap itu muncul saat kawasan kembali diuji oleh aksi militer yang melibatkan kapal perang, rudal, drone, dan kapal kecil. Namun, Gedung Putih belum menganggap serangan itu sebagai pelanggaran resmi terhadap gencatan senjata yang sedang berlangsung.

Serangan terjadi ketika USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason melintas di Selat Hormuz. Komando Pusat AS menyebut Iran melancarkan serangan terhadap ketiga kapal itu dengan kombinasi rudal, drone, dan kapal kecil.

Melalui unggahan di Truth Social, Trump menggambarkan peristiwa tersebut sebagai keberhasilan militer Amerika di laut. Ia menulis bahwa tiga kapal perusak kelas dunia AS berhasil melewati Selat Hormuz di bawah serangan.

Dalam unggahannya, Trump juga menegaskan bahwa rudal-rudal Iran berhasil ditembak jatuh dengan mudah. Ia menambahkan drone-drone Iran terbakar di udara dan jatuh ke laut dengan gaya bahasa yang dramatis.

Pernyataan Trump menegaskan upaya Washington untuk menampilkan daya tahan pertahanan Amerika di tengah situasi yang memanas. Pesan itu juga memperlihatkan keinginan Gedung Putih menjaga narasi bahwa serangan Iran tidak mencapai sasaran.

Selat Hormuz sendiri tetap menjadi titik rawan dalam hubungan Amerika Serikat dan Iran. Jalur pelayaran itu dikenal sangat strategis bagi lalu lintas internasional dan kerap menjadi pusat ketegangan kedua negara.

Meski ada serangan langsung terhadap kapal perang AS, Trump menegaskan kepada ABC News bahwa gencatan senjata masih berjalan. Sikap tersebut menunjukkan Washington memilih menahan eskalasi, setidaknya untuk saat ini.

Di saat yang sama, ruang diplomasi belum sepenuhnya tertutup. Washington dan Teheran disebut masih melanjutkan pembicaraan damai secara tertutup.

Para negosiator kedua pihak dikabarkan membahas kerangka kesepakatan 14 poin yang dapat membuka jalan menuju perjanjian lebih luas soal program nuklir Iran. Amerika Serikat menawarkan pelonggaran sebagian sanksi dan pembukaan kembali jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Sebagai imbalannya, Iran diminta menghentikan pengayaan uranium. Namun, beberapa isu utama masih menjadi ganjalan dalam perundingan tersebut.

Salah satu yang paling sensitif berkaitan dengan stok uranium Iran dan lamanya pembatasan pengayaan nuklir. Trump menegaskan seluruh uranium hasil pengayaan harus diserahkan kepada Amerika Serikat.

Di sisi lain, Iran disebut lebih memilih Rusia sebagai pihak yang menyimpan material tersebut jika kesepakatan tercapai. Perbedaan ini menunjukkan bahwa negosiasi masih menyisakan banyak ruang tarik-menarik.

Tidak semua pihak di Amerika Serikat membaca insiden Selat Hormuz dengan cara yang sama. Sejumlah pengamat keamanan menilai Iran jelas ingin menyasar personel militer Amerika dalam operasi itu.

Mantan pejabat Pentagon, Alex Plitsas, menyebut tindakan Iran telah melanggar kesepakatan damai. Ia menulis di platform X bahwa Iran menembakkan drone, rudal, dan mengerahkan kapal kecil ke kapal perang AS dengan niat membunuh personel militer Amerika.

Perbedaan penilaian ini memperlihatkan bagaimana satu insiden dapat memunculkan tafsir yang berbeda. Di satu sisi, Gedung Putih menekankan serangan berhasil digagalkan, sementara pihak lain menyorot niat agresif di balik aksi tersebut.

Situasi di Selat Hormuz pun memperlihatkan rapuhnya hubungan kedua negara. Di saat tekanan militer meningkat, perundingan nuklir yang masih berlangsung memberi sinyal bahwa jalur pembicaraan belum benar-benar tertutup.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru