Tiket Final Piala Dunia 2026 Tembus US$32.970, Fans Menanggung Beban Terbesar

Author: Redaksi Android62

Harga tiket final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, New Jersey, ditawarkan secara resmi hingga US$32.970. Di pasar penjualan kembali, beberapa tiket bahkan dipasarkan melampaui US$2 juta.

Angka tersebut menggambarkan kontras besar dalam turnamen yang mendekati laga puncak antara Argentina sebagai juara bertahan dan Spanyol. Ketika nilai ekonomi kompetisi membesar, penggemar justru menghadapi biaya berlapis untuk hadir langsung di stadion.

Biaya Perjalanan Ikut Membengkak

Pengeluaran penonton tidak berhenti pada pembelian tiket pertandingan. Biaya transportasi, makanan, dan akomodasi menjadi komponen tambahan yang dapat membuat perjalanan ke Piala Dunia jauh lebih mahal.

New Jersey Transit sempat menaikkan tarif perjalanan menuju Stadion MetLife menjadi US$150 untuk perjalanan sekitar 30 menit selama turnamen. Tarif itu jauh di atas harga normal pulang-pergi yang sebelumnya US$12,90, meski kemudian diturunkan setelah muncul protes.

Presiden FIFA Gianni Infantino membela harga tiket tersebut dengan menyatakan biayanya sejalan dengan ajang olahraga lain di Amerika Serikat. Namun, kebijakan harga dinamis membuat harga dapat meningkat ketika permintaan sedang tinggi.

Pihak Peluang Pendapatan Dampak Utama
FIFA Hak siar, sponsor, lisensi, tiket Pendapatan siklus empat tahun diperkirakan mendekati US$13 miliar
Penyiar Slot iklan dan hak siar Nilai iklan meningkat pada pertandingan penting
Fans Penggerak permintaan Menanggung tiket, perjalanan, konsumsi, dan penginapan mahal
Kota tuan rumah Hotel, restoran, dan bisnis lokal Manfaat jangka panjang belum tentu merata

FIFA Berada di Posisi Paling Menguntungkan

Di tengah lonjakan biaya bagi penonton, FIFA diperkirakan menjadi penerima manfaat finansial terbesar dari Piala Dunia 2026. Marion Laboure, ahli strategi senior Deutsche Bank Research, memperkirakan pendapatan FIFA sepanjang siklus empat tahunnya mendekati US$13 miliar.

Pendapatan itu berasal dari hak siar, lisensi, perhotelan, sponsor, penjualan tiket, serta transaksi pada platform penjualan kembali resmi. FIFA juga memperoleh biaya sebesar 15% dari pembeli dan penjual pada platform tersebut.

Nilai itu berpotensi jauh melampaui pendapatan Piala Dunia 2022 di Qatar yang mencapai sekitar US$7,6 miliar bagi FIFA. Edisi 2026 melibatkan 48 tim dan berlangsung tanpa pembatasan pandemi, sehingga membuka lebih banyak pertandingan serta ruang komersial.

Jeda Hidrasi Menjadi Ruang Komersial

Penyiar dan sponsor juga memperoleh manfaat dari tingginya perhatian publik terhadap pertandingan. Fox Sports di Amerika Serikat membayar US$485 juta untuk hak siar turnamen di wilayah tersebut.

Jeda hidrasi selama tiga menit menjadi salah satu kesempatan baru untuk menjual eksposur iklan. FIFA menyatakan jeda itu semata-mata diberlakukan untuk kepentingan olahraga dan tidak menambah pendapatan organisasi.

Fox Sports memperkenalkan jeda tersebut dengan label sponsor. Para ahli memperkirakan slot iklan berdurasi 30 detik selama Piala Dunia di Fox bernilai sekitar US$200 ribu hingga US$300 ribu.

Nilai iklan itu dapat meningkat hingga US$750 ribu ketika pertandingan Amerika Serikat memasuki fase akhir turnamen. Laboure menilai jeda hidrasi pada praktiknya telah menjadi inventaris iklan bagi penyiar.

Merchandise dan Hotel Tidak Memiliki Hasil Sama

Antusiasme turnamen juga mendongkrak penjualan jersey tim nasional. Nike dan Adidas melaporkan penjualan jersey tim nasional tahun ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022.

Jersey Inggris menjadi produk Nike yang paling laris, disusul Prancis, Brasil, Belanda, dan Amerika Serikat. Di kubu Adidas, jersey Meksiko tercatat sebagai yang paling banyak terjual.

Namun, manfaat ekonomi bagi kota tuan rumah dan sektor perhotelan tidak selalu berjalan sesuai harapan. FIFA memperkirakan turnamen memberi nilai tambah US$41 miliar bagi ekonomi global, termasuk US$17 miliar untuk ekonomi Amerika Serikat serta sekitar 185.000 lapangan kerja.

Alexander Budzier, peneliti praktik manajemen Universitas Oxford, mengingatkan manfaat jangka panjang ajang olahraga besar sering tidak benar-benar terwujud. “Ajang ini menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kekayaan,” ujarnya.

Menurut Laboure, 80% operator hotel di Amerika Serikat pada April menyatakan pemesanan masih di bawah proyeksi awal. Dua pertiga pengelola hotel di New York dan hampir 80% pelaku usaha di Seattle juga melaporkan permintaan yang lebih lemah dari perkiraan.

Source: finance.detik.com
Berita Terbaru