WHO Tetapkan Darurat Ebola, Kota-Kota Kongo Dan Uganda Kini Ikut Terancam

Author: Redaksi Android62

Wabah Ebola yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo dan Uganda kini menjadi perhatian serius otoritas kesehatan dunia. Badan Kesehatan Dunia menilai situasinya berisiko meluas karena kasus tidak hanya muncul di wilayah terpencil, tetapi juga sudah terpantau di kota-kota dengan mobilitas penduduk tinggi.

Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut lebih dari 500 kasus suspek telah ditemukan, dengan lebih dari 130 kematian yang diduga terkait wabah ini. Ia bahkan menetapkan keadaan tersebut sebagai kegawatdaruratan kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada Sabtu, sebelum komite darurat dikumpulkan.

Kekhawatiran utama saat ini bukan hanya jumlah kasus, tetapi juga pola penyebarannya. Kampala, Goma, dan Bunia masuk dalam daftar wilayah yang paling diwaspadai karena menjadi titik pergerakan warga dan memiliki risiko penularan yang lebih luas.

Penularan di lingkungan layanan kesehatan juga menambah kerumitan. WHO mencatat adanya tanda-tanda penyebaran di fasilitas kesehatan setelah kematian dilaporkan di kalangan tenaga kesehatan, sehingga rantai penularan tidak lagi terbatas pada satu komunitas.

Konflik memperberat penanganan

Situasi di lapangan makin sulit karena petugas kesehatan harus menjangkau ratusan ribu pengungsi akibat konflik. Di provinsi Ituri, tempat virus pertama kali terdeteksi pada awal Mei, kekerasan meningkat selama dua bulan terakhir dan lebih dari 100.000 orang baru saja mengungsi.

Pergerakan penduduk dalam jumlah besar di tengah wabah membuat pengendalian penyakit semakin rumit. Akses ke layanan kesehatan di wilayah terpencil juga masih terbatas, sehingga respons cepat tidak selalu bisa menjangkau semua titik yang terdampak.

Pejabat kesehatan regional menilai perang berkepanjangan, pemangkasan bantuan, dan malnutrisi akut ikut menghambat upaya penanggulangan. Dalam kondisi itu, wabah justru menyebar di komunitas-komunitas Ituri yang akses kesehatannya lemah.

Anak-anak dan pengungsi berada dalam posisi rentan

Sejumlah organisasi kemanusiaan menyoroti kelompok yang paling terdampak. Philippe Guiton dari World Vision di Kongo mengatakan anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena sudah lebih dulu terkena dampak konflik, sementara bantuan kemanusiaan masih kurang.

David Munkley, direktur zona timur World Vision, menambahkan bahwa malnutrisi akut di Ituri turut melemahkan sistem imun warga. UNHCR juga melaporkan bahwa 11.000 pengungsi Sudan Selatan di Ituri memerlukan bantuan pencegahan.

Di North Kivu, lebih dari 2.000 pengungsi Rwanda dan Burundi di kota Goma yang dikuasai kelompok pemberontak juga membutuhkan pasokan sanitasi. Kondisi itu menambah tantangan di tengah situasi kesehatan yang sudah rapuh.

Bundibugyo tanpa vaksin

Wabah ini dipicu oleh strain Bundibugyo, salah satu jenis Ebola yang menurut WHO belum memiliki vaksin atau terapi. Penularan terjadi lewat kontak langsung dengan cairan tubuh orang yang terinfeksi, melalui benda yang terkontaminasi, atau saat kontak dengan jenazah penderita Ebola.

Gejalanya meliputi demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, muntah, diare, nyeri perut, serta gangguan fungsi ginjal dan hati. Pada sebagian pasien, perdarahan internal maupun eksternal juga bisa muncul, termasuk darah dari gusi dan darah di tinja.

Tingkat fatalitas Ebola rata-rata sekitar 50 persen. Karena belum ada perawatan atau vaksin yang disetujui khusus untuk virus Bundibugyo, penanganan wabah ini bergantung pada deteksi cepat dan pemutusan rantai penularan.

Deteksi awal sempat terlambat

WHO menyebut dugaan kasus pertama muncul pada seorang pekerja kesehatan yang mulai bergejala pada 24 April. Pasien itu kemudian meninggal di sebuah pusat medis di Bunia, ibu kota provinsi Ituri.

Pada 5 Mei, WHO menerima peringatan tentang penyakit tak dikenal dengan tingkat kematian tinggi di provinsi tersebut. Setelah tim respons cepat menyelidiki pada 13 Mei, wabah itu dikonfirmasi sebagai virus Bundibugyo pada 15 Mei.

Perwakilan WHO di Kongo, Anne Ancia, mengatakan deteksi awal sempat melambat karena tes lokal di Bunia menunjukkan hasil negatif untuk strain Zaire yang lebih umum. Namun, US CDC menyebut sidik genetik wabah ini mirip dengan wabah pada 2007 dan 2012, sehingga petugas medis memiliki peralatan diagnostik untuk mengenali strain tersebut.

Kekhawatiran jumlah kasus sebenarnya lebih besar

Sejumlah pihak menilai ada kemungkinan kasus awal belum sepenuhnya terhitung. Jeremy Konyndyk, mantan pimpinan respons Covid dan bantuan bencana di USAID, menyebut beberapa “generations of transmission” mungkin lolos dari deteksi sebelum wabah dikonfirmasi.

Dr. Craig Spencer, dokter yang pernah selamat dari infeksi Ebola pada 2014, juga menilai jumlah kasus sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dari angka yang saat ini dilaporkan. Kekhawatiran itu muncul di tengah pengalaman panjang Afrika dengan wabah Ebola, termasuk krisis besar di Afrika Barat pada 2014 hingga 2016 yang menewaskan 11.325 orang dan menginfeksi lebih dari 28.600 orang menurut WHO.

Tedros menegaskan bahwa kombinasi kasus di wilayah perkotaan, penularan di fasilitas kesehatan, pergerakan besar penduduk, dan belum tersedianya vaksin untuk strain Bundibugyo membuat wabah ini harus diperlakukan dengan sangat serius. Dalam situasi keamanan yang rapuh, tantangan terbesarnya tetap sama: menghentikan penyebaran sebelum menjangkau lebih banyak wilayah dan korban.

Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru