WHO Uji Remdesivir di Kongo, Harapan Baru untuk Ebola Bundibugyo yang Belum Punya Vaksin

WHO memulai uji klinis dua kandidat obat untuk menghadapi wabah Ebola jenis Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo. Langkah ini menjadi sorotan karena varian tersebut belum memiliki vaksin maupun terapi yang disetujui.

Pasien pertama sudah terdaftar dalam penelitian itu, menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. Ia menyebut uji ini memberi harapan baru bagi warga di wilayah yang terdampak wabah.

Fokus pada varian yang belum punya pengobatan resmi

Wabah kali ini dipicu oleh Ebola Bundibugyo, salah satu dari enam spesies virus Ebola yang telah diidentifikasi. Dari jumlah itu, hanya tiga yang diketahui dapat memicu wabah besar pada manusia.

Virus ini menyerang sistem kekebalan dan organ vital, lalu menular lewat kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. WHO menjelaskan, Ebola berasal dari hewan, terutama kelelawar buah, dan biasanya berpindah ke manusia setelah ada kontak dengan hewan yang terinfeksi.

Gejala Ebola kerap muncul tiba-tiba dan sering menyerupai flu atau malaria, seperti demam tinggi, sakit kepala, kelelahan, dan nyeri tubuh. Masa inkubasinya berkisar antara dua hingga 21 hari, sehingga deteksi dini menjadi bagian penting dalam penanganan.

Dua obat yang sedang diuji

Dalam uji klinis ini, peneliti menilai remdesivir dan MBP134 untuk melihat apakah keduanya bisa meningkatkan peluang hidup pasien. Remdesivir adalah antivirus buatan Gilead Sciences yang sebelumnya disetujui untuk Covid-19.

Sejumlah studi laboratorium menunjukkan remdesivir berpotensi melawan Ebola Bundibugyo. Kandidat kedua, MBP134, merupakan antibodi monoklonal eksperimental dari Mapp Biopharmaceutical yang dirancang untuk menargetkan beberapa jenis Ebola, termasuk Bundibugyo.

Kandidat obatAsalFungsi utamaStatus
RemdesivirGilead SciencesAntivirusSudah disetujui untuk Covid-19
MBP134Mapp BiopharmaceuticalAntibodi monoklonalEksperimental

Tedros mengatakan bahwa sebagian pasien memang dapat sembuh tanpa terapi khusus, tetapi pengobatan yang aman dan efektif tetap dibutuhkan untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. Ia menilai uji ini memberi harapan nyata bagi masyarakat di wilayah yang terdampak wabah.

Seluruh peserta tetap mendapat perawatan terbaik

WHO menegaskan semua peserta penelitian akan tetap menerima standar perawatan terbaik yang tersedia. Setelah itu, mereka akan dibagi secara acak ke dalam beberapa kelompok yang mendapat remdesivir, MBP134, kombinasi keduanya, atau hanya perawatan standar.

Para peneliti akan memantau kelangsungan hidup pasien selama 28 hari setelah pengobatan dimulai. Penasihat penelitian WHO, dr Vasee Moorthy, menyebut proses ini kemungkinan memerlukan beberapa bulan sebelum menghasilkan kesimpulan yang pasti.

Menurut WHO, sekitar 1.000 peserta diperkirakan dibutuhkan agar efektivitas tiap obat dapat dinilai secara ilmiah. Namun jika salah satu terapi menunjukkan hasil sangat baik lebih awal, penelitian bisa selesai lebih cepat dengan peserta yang lebih sedikit.

Wabah yang meluas dan kondisi lapangan yang sulit

WHO menyebut wabah Ebola yang juga berdampak di Uganda mulai terdeteksi pada Mei lalu. Organisasi itu kemudian menetapkannya sebagai darurat kesehatan masyarakat karena penyebarannya dinilai serius.

Berdasarkan data WHO hingga 30 Juni, Republik Demokratik Kongo mencatat 1.406 kasus terkonfirmasi Ebola, 301 kasus suspek, dan 438 kematian. Di Uganda, ada 20 kasus terkonfirmasi dengan dua korban meninggal, sementara Prancis melaporkan satu kasus terkonfirmasi pada 1 Juli.

Meski belum ada terapi khusus, lebih dari 200 pasien disebut berhasil sembuh melalui perawatan suportif standar. WHO menekankan bahwa penanganan sejak awal infeksi tetap menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang hidup.

Uji klinis baru berjalan di satu pusat perawatan Ebola di Provinsi Ituri, wilayah yang menjadi pusat penyebaran wabah di timur Republik Demokratik Kongo. Lokasi ini juga lama dilanda konflik bersenjata, sehingga petugas kesehatan bekerja dalam situasi yang sulit dan kerap menghadapi ancaman kekerasan.

WHO menyatakan penelitian akan diperluas ke fasilitas kesehatan lain bila kondisi keamanan memungkinkan. Pasokan dua obat dalam penelitian ini datang dari dukungan sejumlah pihak, dengan Gilead Sciences menyumbangkan remdesivir dan Pemerintah Amerika Serikat menyediakan dosis MBP134.

Penelitian ini juga melibatkan kolaborasi berbagai lembaga, mulai dari Institut National de Recherche Biomédicale di Kongo, Institute of Tropical Medicine di Antwerpen, hingga University of Oxford. WHO berharap kerja sama itu dapat mempercepat lahirnya terapi pertama yang terbukti efektif untuk Ebola Bundibugyo.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terkait