Amerika Serikat dinilai memiliki kemampuan taktis untuk merebut pulau kecil milik Iran, tetapi keberhasilan awal itu belum menjamin keuntungan strategis. Tantangan terberat justru muncul setelah pendaratan, ketika pasukan harus mempertahankan posisi di bawah ancaman serangan berkelanjutan dari daratan utama Iran.
Profesor madya studi keamanan King’s College London, Andreas Krieg, memperkirakan operasi terbatas saja memerlukan sedikitnya 5.000 hingga 10.000 personel. Kebutuhan itu mencakup pasukan tempur, pertahanan udara, insinyur, logistik, tenaga medis, serta unsur komando.
Jumlah tersebut menjadi persoalan karena pasukan pendudukan tidak hanya bertugas menguasai wilayah. Mereka juga harus menjaga jalur suplai, melindungi fasilitas, dan menghadapi ancaman rudal, drone, ranjau, serta artileri Iran.
AS diperkirakan memiliki sekitar 50.000 personel militer di Timur Tengah yang tersebar di pangkalan permanen dan pos kecil. Kekuatan itu dapat memberi ruang untuk operasi terbatas, tetapi belum tentu memadai bagi pendudukan yang berlangsung lama.
Jalur Pasokan Menjadi Kerentanan Utama
Kapal logistik, kapal pendarat, dan helikopter harus bergerak melalui perairan yang berada dalam jangkauan serangan Iran. Kondisi tersebut membuat pengiriman pasokan dapat berubah menjadi operasi perlindungan yang mahal dan berisiko tinggi.
Menurut Krieg, Iran tidak perlu segera merebut kembali pulau yang diduduki AS untuk menekan lawannya. Teheran cukup membuat posisi itu menjadi mahal, rentan, dan memalukan secara politik lewat serangan berulang.
Situasi itu dapat mendorong Washington masuk ke komitmen pendudukan tanpa batas waktu. Operasi yang semula dirancang terbatas berpotensi bergeser menjadi konflik darat dengan kebutuhan personel dan perlindungan yang terus meningkat.
Pulau Strategis dengan Risiko Berbeda
| Target | Karakteristik | Risiko bagi AS |
|---|---|---|
| Pulau Qeshm | Berukuran besar dan menempel pada daratan utama Iran | Sulit direbut serta dipertahankan |
| Pulau kecil seperti Hengam | Lebih mudah direbut secara taktis | Tetap dalam jangkauan serangan Iran |
| Pulau Kharg | Dilalui sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran | Berisiko memicu eskalasi lebih luas |
Qeshm menjadi target yang paling menantang karena ukuran pulau dan kedekatannya dengan wilayah utama Iran. Sementara itu, pulau kecil seperti Hengam mungkin lebih mudah dikuasai, tetapi tidak terlepas dari ancaman tembakan dari pesisir Iran.
Kharg memiliki arti ekonomi yang besar karena sekitar 90% ekspor minyak mentah Iran melewati jalur di sekitarnya. Perebutan pulau ini karena itu dapat memicu spekulasi mengenai operasi darat yang lebih luas daripada sekadar penguasaan pulau kecil.
Selat Hormuz Tidak Otomatis Aman
Perebutan pulau juga tidak otomatis menghilangkan ancaman terhadap Selat Hormuz. Iran masih dapat meluncurkan rudal dan drone dari daratan utamanya untuk mengganggu pelayaran internasional.
Untuk benar-benar menekan kemampuan tersebut, AS harus menghancurkan sistem pertahanan Iran di pesisir selatan. Langkah itu bahkan dapat membuka kemungkinan pendudukan di sebagian wilayah pantai Iran.
Nader Hashemi, profesor politik Timur Tengah Universitas Georgetown, menilai skenario itu kecil kemungkinan terjadi. Ia menyebut operasi tersebut memerlukan kampanye pengeboman yang jauh lebih intens dibanding serangan yang telah berlangsung.
Isu perebutan pulau menguat setelah serangan AS ke Qeshm, Kish, Abu Musa, serta sejumlah kota pelabuhan di selatan Iran, termasuk Bandar Abbas. Langkah tersebut memunculkan dugaan bahwa Washington tidak hanya berupaya melumpuhkan kekuatan Teheran.
Apabila pendudukan benar-benar dilakukan, Iran diperkirakan dapat meningkatkan penanaman ranjau di Selat Hormuz dan menyerang kapal dagang, pangkalan AS, serta infrastruktur energi negara Teluk. Perusahaan pelayaran juga mungkin tetap menghindari jalur tersebut, sementara premi asuransi kapal berpotensi naik dan pembersihan ranjau memerlukan waktu panjang.
Negara-negara Teluk menginginkan Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi tidak ingin wilayah mereka berubah menjadi basis operasi atau sasaran serangan balasan. Karena itu, kemenangan simbolis atas pulau Iran dapat membawa konsekuensi politik, ekonomi, dan militer yang jauh lebih mahal daripada fase perebutannya.
