Bank Plasma Pertama Ditargetkan 2027, Indonesia Mulai Bangun Ekosistem Obat Derivat Plasma

Author: Redaksi Android62

Indonesia mulai menyiapkan ekosistem obat derivat plasma nasional untuk memperluas akses terapi bagi pasien dengan penyakit langka, gangguan kekebalan tubuh, dan kelainan pembekuan darah. Target awalnya cukup jelas, bank plasma pertama di Indonesia ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.

Langkah ini muncul di tengah kebutuhan terapi yang terus meningkat, sementara angka diagnosis masih rendah dan pemahaman publik terhadap penyakit yang dapat ditangani dengan obat derivat plasma masih minim. Kondisi tersebut membuat pasokan dan akses terapi di Indonesia, serta Asia Tenggara, belum sepenuhnya kuat.

Investasi dan arah pengembangan

President Plasma-Derived Therapies Takeda, Ramy Riad, mengatakan perusahaan akan berinvestasi hingga USD30 juta atau sekitar Rp539 miliar dalam dua tahun. Dana itu digunakan untuk membangun beberapa bank plasma di Indonesia sebagai tahap awal sebelum dikembangkan menjadi jaringan bank plasma nasional.

Tahap awal tersebut juga dipakai untuk mengevaluasi kelayakan model operasional. Jika berjalan sesuai rencana, jaringan itu diharapkan dapat menjadi dasar penguatan pasokan obat derivat plasma di dalam negeri.

Komponen Detail Keterangan
Nilai investasi USD30 juta Sekitar Rp539 miliar
Jangka waktu 2 tahun Untuk pembangunan beberapa bank plasma
Target awal Bank plasma pertama Ditargetkan mulai beroperasi pada 2027

Kolaborasi dari hulu ke hilir

Kerja sama antara Takeda dan Pemerintah Indonesia mencakup pengembangan sistem pengumpulan dan pengolahan plasma, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, edukasi masyarakat, serta transfer praktik terbaik dalam pengelolaan plasma. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut kemitraan ini diharapkan memperkuat sistem kesehatan nasional dan mempersiapkan Indonesia menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.

Di tahap berikutnya, plasma yang terkumpul akan diproses melalui jaringan manufaktur global Takeda selama fasilitas fraksionasi plasma dalam negeri masih dikembangkan. Proses itu tetap diarahkan untuk mengutamakan kebutuhan pasien Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.

Takeda juga telah ditetapkan Kementerian Kesehatan sebagai industri farmasi yang dapat menyelenggarakan fraksionasi plasma untuk memproduksi PODP. Penetapan ini menjadi landasan bagi pengumpulan plasma dan proses fraksionasi secara bertahap.

Bank plasma pertama di Indonesia nantinya akan menjadi bagian dari jaringan bank plasma BioLife milik Takeda. Dalam skema yang lebih luas, inisiatif ini ditujukan untuk memperkuat ketersediaan obat derivat plasma bagi pasien di Indonesia sekaligus mendukung ketahanan pasokan plasma di Asia Tenggara.

Selain aspek layanan kesehatan, pengembangan ekosistem ini juga diposisikan sebagai bagian dari dorongan untuk memperkuat industri biofarmasi Indonesia. Dengan fondasi tersebut, pemerintah dan mitra industri berharap rantai pasok plasma nasional bisa tumbuh lebih siap menjawab kebutuhan terapi yang terus meningkat.

Berita Terbaru