Proyek gas raksasa Blok Masela di Laut Arafura kini memasuki tahap konstruksi setelah groundbreaking dilakukan. Pembangunan Proyek Abadi LNG tersebut ditargetkan selesai dan mulai berproduksi pada 2029.
Langkah ini membuka jalan bagi investasi sekitar US$21 miliar yang selama puluhan tahun belum sepenuhnya bergerak. Nilai tersebut mencakup tambahan investasi US$1 miliar untuk penerapan teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS.
Ketika beroperasi, proyek ini direncanakan menghasilkan LNG, gas pipa, dan kondensat setiap hari. Kapasitas produksinya menempatkan Blok Masela sebagai salah satu proyek migas besar yang dibidik memberi penerimaan bagi negara.
| Komponen | Rencana Produksi atau Nilai |
|---|---|
| Nilai investasi | US$21 miliar |
| Tambahan investasi CCS | US$1 miliar |
| Produksi LNG | 9,5 juta ton per tahun |
| Produksi gas | 150 juta standar kaki kubik per hari |
| Produksi kondensat | 35.000 barel per hari |
Produksi LNG dari proyek ini diproyeksikan mencapai 9,5 juta ton per tahun. Blok tersebut juga direncanakan menghasilkan gas sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari atau MMSCFD serta 35.000 barel kondensat per hari.
Perdebatan pembangunan yang panjang
Pembangunan Blok Masela tertunda karena perdebatan panjang mengenai skema fasilitas pengolahan gas. Perbedaan utama muncul antara pilihan membangun fasilitas di laut atau offshore dan di darat atau onshore.
Perdebatan itu membuat investasi besar serta potensi penerimaan negara dari sektor migas belum berjalan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai penundaan berkepanjangan tidak akan memberi manfaat ekonomi.
“Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesainya? Dampaknya, kita baru akan mendapatkan pendapatan negara ketika proyek ini berjalan,” kata Bahlil. Pernyataan itu disampaikan usai membuka Musyawarah Daerah Partai Golkar Sulsel di Hotel Claro Makassar, Sabtu (18/7).
Melewati enam periode presiden
Bahlil menyebut Blok Masela telah ada sejak 1998 dan tertunda selama 28 tahun. Menurutnya, proyek tersebut telah melewati enam presiden hingga pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Atas arahan Presiden Prabowo, pemerintah akhirnya mengambil langkah untuk mengeksekusi proyek tersebut. Bahlil mengatakan persoalan yang menghambat proyek dapat diselesaikan dalam satu tahun hingga groundbreaking terlaksana.
Media Indonesia melaporkan proyek ini dioperasikan oleh Inpex Corporation bersama mitranya. Groundbreaking menandai dimulainya pembangunan fisik yang menjadi tahap penting sebelum fasilitas produksi beroperasi.
Bahlil memperkirakan seluruh pembangunan dapat rampung pada 2029. Target itu sekaligus menempatkan 2029 sebagai tahun yang dituju untuk memulai produksi dari Blok Masela.
