AJB Bumiputera 1912 membukukan laba setelah pajak Rp360,34 miliar pada semester I/2026, berbalik dari rugi Rp406,84 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pembalikan kinerja ini terjadi meski kondisi permodalan perusahaan masih menunjukkan tekanan.
Ekuitas perusahaan pada akhir Juni 2026 tercatat negatif Rp2,67 triliun, lebih dalam dibandingkan minus Rp2,52 triliun setahun sebelumnya. Posisi tersebut muncul karena liabilitas Rp11,56 triliun masih melampaui total aset yang hanya sebesar Rp8,89 triliun.
Kewajiban Masih Lebih Tinggi dari Aset
Total aset AJB Bumiputera 1912 turun 10,08% secara tahunan dari Rp9,89 triliun menjadi Rp8,89 triliun pada akhir Juni 2026. Sementara itu, liabilitas turun 6,80%, tetapi penurunannya belum cukup untuk mengangkat ekuitas keluar dari zona negatif.
Perbedaan antara aset dan kewajiban menjadi faktor penting dalam membaca kondisi perusahaan di tengah laba yang kembali positif. Struktur neraca tersebut juga tercermin pada rasio pencapaian solvabilitas yang masih berada di angka negatif 721,31%.
Meski tetap minus, rasio solvabilitas itu sedikit membaik dari negatif 741,84% pada semester I/2025. Dalam laporan keuangan semester I/2026 yang dikutip Bisnis.com, perbaikan sejumlah rasio belum menandakan pemulihan menyeluruh pada posisi keuangan perusahaan.
| Pos Keuangan | Semester I/2026 | Semester I/2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp53,72 miliar | Rp385,64 miliar |
| Laba setelah pajak | Rp360,34 miliar | Rugi Rp406,84 miliar |
| Total laba komprehensif | Rp321,52 miliar | Rugi Rp419,26 miliar |
| Ekuitas | Minus Rp2,67 triliun | Minus Rp2,52 triliun |
Pendapatan Merosot, Hasil Investasi Tetap Tumbuh
Pendapatan perusahaan hingga 30 Juni 2026 mencapai Rp53,72 miliar, turun 86,07% dari Rp385,64 miliar pada semester I/2025. Di tengah penurunan itu, total laba komprehensif berubah menjadi positif Rp321,52 miliar dari rugi komprehensif Rp419,26 miliar.
Hasil investasi menjadi salah satu pos yang tetap meningkat selama enam bulan pertama 2026. Nilainya mencapai Rp67,24 miliar atau naik 1,32% dari Rp66,36 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, total nilai investasi justru menyusut 6,98% secara tahunan menjadi Rp5,09 triliun. Kondisi ini menunjukkan kenaikan hasil investasi belum sejalan dengan pertumbuhan nilai keseluruhan portofolio investasi.
Properti Masih Mendominasi Investasi
Bangunan dan tanah untuk investasi menjadi komponen terbesar dalam portofolio perusahaan dengan nilai Rp3,55 triliun per Juni 2026. Porsi tersebut jauh lebih besar dibandingkan instrumen lain yang tercatat dalam laporan keuangan.
| Instrumen Investasi | Nilai per Juni 2026 |
|---|---|
| Bangunan dan tanah untuk investasi | Rp3,55 triliun |
| Penyertaan langsung | Rp540,61 miliar |
| Surat Berharga Negara | Rp503,10 miliar |
| Deposito berjangka | Rp137,23 miliar |
| Reksa dana | Rp120,10 miliar |
Selain properti investasi, AJB Bumiputera 1912 memiliki penyertaan langsung Rp540,61 miliar dan Surat Berharga Negara Rp503,10 miliar. Dana lainnya ditempatkan pada deposito berjangka Rp137,23 miliar serta reksa dana Rp120,10 miliar.
Sejumlah Rasio Mengalami Perbaikan
Rasio kecukupan investasi naik menjadi 22,51% dari 21,76% setahun sebelumnya. Rasio hasil investasi terhadap premi neto juga meningkat menjadi 229,41% dari 67,40%.
Di sisi lain, rasio likuiditas turun dari 16,40% menjadi 15,39%. Rasio beban klaim, beban usaha, dan komisi membaik menjadi 1.383,30% dari 1.488,33% pada semester I/2025.
Perubahan rasio tersebut menggambarkan adanya perbaikan pada beberapa indikator, tetapi tekanan neraca tetap besar. Kinerja Keuangan Asuransi AJB Bumiputera 1912 masih ditentukan oleh kemampuan memperbaiki aset, ekuitas, dan Solvabilitas Asuransi Jiwa yang belum pulih.
Source: finansial.bisnis.com






