Pertamina Pride bersiap melintasi Selat Hormuz untuk membawa minyak mentah menuju Kilang Cilacap, setelah jalur perdagangan itu kembali dibuka usai kesepakatan damai sementara Amerika Serikat dan Iran. Keputusan akhir pelayaran tetap bergantung pada kondisi keamanan di perairan strategis tersebut.
Pertamina International Shipping terus memantau situasi di lapangan karena ketegangan di Timur Tengah sempat menahan pergerakan armada. Dalam kondisi seperti ini, keselamatan kru, kargo, dan kapal menjadi pertimbangan utama sebelum kapal supertanker itu diizinkan bergerak.
Izin teknis masih diproses
Manajemen menyebut pengurusan izin teknis untuk Pertamina Pride masih berjalan. Baron mengatakan kapal itu sedang memproses persiapan pelayaran, tetapi keputusan akhir tetap mengikuti situasi lapangan.
Ia meminta kondisi di Selat Hormuz segera mereda agar kapal bisa melintas dengan aman. Penundaan pengiriman kargo minyak mentah dari Pertamina Pride terjadi karena eskalasi situasi yang sempat memanas kembali di sekitar selat tersebut.
Muatan besar dan kapal raksasa
Pertamina Pride adalah kapal supertanker jenis Very Large Crude Carrier atau VLCC dengan kapasitas muat 301.000 dead weight ton. Volume itu setara sekitar 2 juta barel minyak mentah yang ditujukan ke Kilang Cilacap jika pelayaran dapat dilakukan.
Kapal tersebut dibangun di galangan Japan Marine United sejak 2018 dan diserahterimakan pada Maret 2021. Kini, operasionalnya dikelola oleh NYK Shipmanagement Pte Ltd.
| Informasi | Rincian | Keterangan |
|---|---|---|
| Nama kapal | Pertamina Pride | Supertanker milik PT Pertamina International Shipping |
| Jenis | VLCC | Very Large Crude Carrier |
| Kapasitas | 301.000 dead weight ton | Setara sekitar 2 juta barel minyak mentah |
| Tujuan | Kilang Cilacap | Pengangkutan minyak mentah |
Selat Hormuz kembali disorot
Selat Hormuz kembali menjadi titik perhatian setelah sebelumnya berada dalam pengawasan ketat. Di kawasan itu, insiden penyerangan proyektil terhadap kapal pembawa minyak Qatar pada akhir Juni sempat menaikkan status ancaman pelayaran menjadi substansial.
Kondisi tersebut membuat pemilihan waktu dan rute pelayaran harus melalui pembahasan serta penilaian risiko yang ketat. Prosedur keamanan juga diterapkan berlapis sebelum kapal diizinkan bergerak dari Teluk Arab.
Pelayaran kapal lain sudah lebih dulu lolos
Sebelumnya, kapal tanker Gamsunoro milik PIS lebih dulu berhasil melewati titik kritis di Selat Hormuz dengan aman. Kapal itu sempat tertahan sejak awal Maret 2026 sebelum akhirnya dinyatakan mencapai zona aman.
Dalam pelayaran Gamsunoro, puluhan syarat harus dipenuhi sebelum kapal diizinkan bergerak. Persyaratan itu mencakup asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, serta kesiapan kru.
Pelayaran Gamsunoro sendiri memakan waktu 16 jam dengan kecepatan 7,5 knot dari Teluk Arab menuju mulut Selat Hormuz. Setelah itu, kapal dinyatakan memasuki zona aman.
PIS juga menyampaikan apresiasi kepada Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Tehran atas dukungan yang diberikan selama proses tersebut. Dukungan serupa dinilai penting karena Selat Hormuz masih menjadi titik rawan energi dunia dan memegang peran besar bagi kelancaran distribusi minyak mentah.
