QRIS dan Pesan Antar Menjaga Warung Buah Kecil Ini Tetap Ramai Setelah Hampir 20 Tahun

Author: Redaksi Android62

Pembeli di Kusuma Buah kini tidak hanya datang membawa uang tunai. Di warung buah kecil di Jalan Kusumanegara, Yogyakarta, transaksi juga mengalir lewat QRIS dan pesanan dari aplikasi pesan antar yang membuat usaha lama itu tetap hidup.

Perubahan itu menjadi penting bagi Diana, pemilik warung yang sudah menekuni usaha keluarga tersebut sejak 2007. Di tengah persaingan penjual buah yang lebih besar dan kebiasaan belanja pelanggan yang berubah, ia memilih menyesuaikan cara melayani tanpa meninggalkan pola jualan tradisional.

Dari warung keluarga di jalur ramai

Kusuma Buah berdiri di lokasi yang dinilai strategis karena berada dekat dengan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Universitas Teknologi Yogyakarta, dan Pamela Supermarket. Jalan Kusumanegara juga ramai dilalui pengguna jalan, sehingga pembeli dari sekitar maupun yang sedang melintas mudah singgah.

Diana merintis usaha itu bersama suaminya dan tetap menjalankannya sebagai usaha keluarga hingga sekarang. Sejak awal berdiri, warung tersebut memang berada di Jalan Kusumanegara, hanya berpindah dari sisi jalan yang berbeda ke lokasi yang dipakai saat ini.

Di Yogyakarta, Diana tinggal di rumah kontrakan yang juga dipakai sebagai tempat usaha. Warung buah itu menjadi satu-satunya usaha yang ditekuni pasangan tersebut sejak dirintis hampir dua dekade lalu.

Buah segar, jus, dan stok yang cepat berputar

Kusuma Buah tidak hanya menjual buah segar, tetapi juga menyediakan aneka jus buah. Dua jenis jualan itu saling mendukung karena buah yang dipajang di warung juga dipakai sebagai bahan dasar minuman.

Pola tersebut membantu perputaran barang berjalan lebih efisien. Buah yang tidak habis terjual satuan masih bisa diolah menjadi jus, sehingga stok tidak cepat terbuang.

Diana menjaga kualitas dagangan dengan memperbarui buah setiap hari. Suaminya mengambil pasokan langsung dari Pasar Gamping dan tidak menyetok dalam jumlah besar agar uang lebih cepat berputar.

Harga buah di warung itu juga mengikuti kondisi pasar. Saat musim panen, harga biasanya lebih murah karena stok melimpah, sedangkan dalam kondisi pasar tidak stabil harga bisa berubah setiap hari.

QRIS muncul karena pelanggan mulai berubah

Digitalisasi masuk ke warung itu ketika Diana memasang QRIS BRI sekitar tiga sampai empat tahun terakhir. Keputusan tersebut diambil setelah pelanggan mulai menanyakan pembayaran online, terutama pembeli muda yang lebih sering memakai transaksi nontunai.

Diana memilih QRIS BRI karena sudah lebih dulu memiliki rekening di BRI. Langkah itu membuat pembayaran lebih mudah, meski cara jualan yang sederhana tetap dipertahankan.

Namun, uang tunai belum hilang dari warung tersebut. Pelanggan lama masih lebih banyak membayar dengan cash, sementara pelanggan baru yang mayoritas mahasiswa lebih sering menggunakan QRIS.

Perubahan itu menunjukkan kebiasaan belanja yang bergeser bertahap. Warung tradisional seperti Kusuma Buah kini menambah pilihan pembayaran agar tetap relevan dengan pelanggan yang makin terbiasa dengan transaksi digital.

Alfi, salah satu pengguna QRIS, tetap membawa uang tunai saat bepergian. Meski begitu, ia mengaku untuk belanja biasa lebih sering memakai QRIS, meski koneksi yang tidak stabil kadang membuat transaksi gagal atau berjalan lebih lambat.

Pesan antar membuka jalur penjualan baru

Sebelum QRIS dipasang, Diana lebih dulu memanfaatkan layanan pesan antar makanan. Layanan itu mulai digunakan sejak masa pandemi Covid-19, diawali dari GrabFood.

Setelah itu, pendaftaran dilakukan bertahap ke platform lain. Saat Shopee membuka ShopeeFood di Indonesia pada April 2020, Kusuma Buah ikut bergabung untuk memperluas saluran penjualan.

Belum lama ini, warung tersebut juga masuk ke GoFood. Kehadiran beberapa platform pesan antar membuat penjualan tidak hanya bergantung pada pembeli yang datang langsung ke toko.

Ramainya pengemudi ojek online yang datang ke warung menjadi tanda perubahan itu. Kusuma Buah kini hidup dari kombinasi pembeli langsung dan pesanan yang masuk lewat aplikasi.

Usaha kecil yang menyesuaikan arah pasar

Kisah Kusuma Buah menunjukkan bahwa usaha kecil bisa bertahan lama ketika berani menyesuaikan diri. Diana dan suaminya tetap mempertahankan cara kerja sederhana, tetapi menambahkan kanal pembayaran dan distribusi yang mengikuti kebiasaan pelanggan.

Di saat transaksi digital terus meluas, QRIS dan layanan pesan antar menjadi penopang penting bagi warung buah rumahan seperti ini. Data BRI menunjukkan jumlah merchant mencapai 323,7 ribu dengan volume transaksi Rp67,9 triliun, tumbuh 26,5 persen secara tahunan, sementara transaksi QRIS mencapai Rp30,5 triliun dan jumlah transaksinya 253 miliar pada periode yang sama.

Berita Terbaru