Sejarah Lama Menjadi Arah Baru, GKJW dan GKI SW Jatim Resmikan Kemitraan Pelayanan

Author: Redaksi Android62

Kerja sama antara Greja Kristen Jawi Wetan atau GKJW dan GKI Sinode Wilayah Jawa Timur kini memasuki fase yang lebih terarah setelah penandatanganan nota kesepakatan di Pendopo Atas Kantor Majelis Agung GKJW. Dokumen itu menjadi penanda bahwa dua sinode besar di Jawa Timur memilih memperkuat langkah bersama dalam pelayanan yang lebih sistematis dan menyesuaikan kebutuhan jemaat di lapangan.

Kesepakatan tersebut tidak berdiri sebagai agenda administratif semata. Di dalamnya, kedua pihak menegaskan bahwa relasi yang telah terbangun lama kini diarahkan menjadi kemitraan strategis yang memiliki dasar sejarah, tujuan pelayanan, serta mekanisme kerja yang lebih jelas.

Jejak sejarah yang sudah lama terbentuk

Hubungan GKJW dan GKI SW Jatim memiliki akar yang panjang. Dalam dokumen kemitraan disebutkan bahwa jemaat-jemaat yang kini berada di bawah GKI SW Jatim berawal dari komunitas Tiong Hoa Kie Tok Kauw Hwee atau THKTKH Jawa Timur.

Pada masa awal pertumbuhan gereja di Jawa Timur, pembinaan jemaat Tionghoa Kristen dan komunitas Kristen Jawa berjalan dalam ruang persekutuan yang saling bertemu. Jejak itu tampak di sejumlah wilayah seperti Surabaya, Malang, dan Kediri, ketika ruang ibadah GKJW pernah menjadi tempat bertumbuhnya iman jemaat THKTKH sebelum berkembang menjadi sinode yang mandiri.

Penandatanganan yang menandai arah baru

Nota kesepakatan itu ditandatangani oleh Pdt. Natael Hermawan Prianto selaku Ketua PHMA GKJW dan Pdt. Deddy Gunawan Satyaputra selaku Ketua Umum BPMSW GKI SW Jatim. Prosesi tersebut disaksikan jajaran PHMA GKJW dan menegaskan bahwa kerja sama ini lahir dari kebutuhan pelayanan yang makin kompleks.

Wilayah Jawa Timur memiliki corak sosial, ekonomi, dan budaya yang beragam. Kondisi itu membuat pelayanan gereja tidak bisa berjalan dengan pola yang terpisah-pisah, terutama ketika sumber daya jemaat tidak selalu merata di setiap tempat.

Lima bidang kerja sama yang disepakati

Kemitraan strategis ekumenis ini dirancang dalam lima pilar utama. Kelima bidang itu disusun agar pelayanan bersama dapat dijalankan secara nyata dan terukur.

  1. Teologi: pengembangan pemahaman iman yang relevan dan kontekstual.
  2. Koinonia: penguatan persekutuan melalui ibadah bersama dan pertukaran pelayan firman.
  3. Marturia: kesaksian iman dengan pendekatan digital dan media sosial.
  4. Diakonia: pelayanan sosial seperti pemberdayaan ekonomi, tanggap bencana, kesehatan masyarakat, dan isu stunting.
  5. Penatalayanan: tata kelola sumber daya, pertukaran pengetahuan, dan administrasi yang lebih akuntabel.

Kelima pilar itu menunjukkan bahwa kemitraan ini tidak hanya menekankan pertemuan simbolik, tetapi juga kerja bersama yang menyentuh kehidupan jemaat dan masyarakat.

Menjawab tantangan pelayanan masa kini

Kesepakatan ini juga lahir dari kesadaran bahwa gereja menghadapi tantangan yang serupa. Kesenjangan ekonomi, ancaman radikalisme, dan persoalan lingkungan hidup menjadi bagian dari konteks yang harus direspons secara bersama.

Dalam kerangka itu, GKJW dan GKI SW Jatim menilai bahwa perbedaan tradisi tidak perlu dipandang sebagai batas. Sebaliknya, perbedaan justru ditempatkan sebagai kekayaan yang dapat memperkuat kesaksian gereja di tengah perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat yang terus bergerak.

Untuk menjaga agar langkah bersama tetap berjalan sistematis, kedua sinode sepakat membentuk Satuan Tugas Kemitraan Strategis atau Satgas Mitra. Wadah ini akan merancang, menjalankan, dan mengevaluasi agenda bersama agar hasilnya lebih terukur serta berkelanjutan.

Napak tilas yang menguatkan makna kerja sama

Setelah penandatanganan, rombongan BPMSW GKI SW Jatim bersama beberapa pendeta tugas khusus melanjutkan napak tilas ke GKJW Jemaat Malang atau Talun. Di sana, mereka menelusuri Buku Induk Jemaat dan menemukan catatan nama Oei Sioe Tiong sebagai warga jemaat.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Kendalpayak untuk meninjau bekas lokasi yang dahulu dikenal sebagai Pos Pekabaran Injil. Kawasan itu kini telah berubah fungsi menjadi eks-pabrik NIMEF, namun kunjungan tersebut mempertegas bahwa kemitraan GKJW dan GKI SW Jatim bertumpu pada ingatan sejarah yang panjang sekaligus pada kebutuhan untuk merespons pelayanan jemaat masa kini dengan lebih terarah.

Source: gkjw.or.id
Berita Terbaru