Sebanyak 3.645 sekolah menengah atas, kejuruan, dan madrasah aliyah di Jawa Timur berada di wilayah dengan risiko bencana tinggi. Angka itu setara dengan 89,2 persen dari total 4.088 sekolah yang dipetakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur.
Di tengah tingginya kerawanan tersebut, kesiapsiagaan sekolah masih tertinggal jauh. Hanya sekitar 95 sekolah atau 2 persen yang telah mengantongi pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana atau SPAB.
Kesenjangan besar antara risiko dan kesiapan
Data itu menunjukkan bahwa ancaman bencana bukan hanya persoalan lokasi sekolah, tetapi juga kemampuan lingkungan pendidikan merespons keadaan darurat. Tanpa kesiapan yang memadai, proses belajar dapat terganggu dan keselamatan siswa ikut terancam saat bencana terjadi.
Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur Gatot Soebroto menyampaikan temuan tersebut di Surabaya. Ia menegaskan bahwa kondisi ini layak menjadi perhatian serius karena sekolah menampung ribuan pelajar yang membutuhkan perlindungan lebih baik.
Guru didorong menjadi penggerak kesiapsiagaan
Untuk menjawab situasi itu, BPBD Jawa Timur kembali menggelar Training of Facilitator Satuan Pendidikan Aman Bencana atau TOF SPAB. Kegiatan ini diikuti 50 guru perwakilan dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur.
Penguatan kapasitas guru dipandang penting karena tenaga pendidik berada paling dekat dengan siswa saat kondisi darurat. Materi pelatihan diharapkan tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi dibawa kembali ke sekolah masing-masing agar kesiapsiagaan bisa diterapkan secara nyata.
| Data Utama | Jumlah | Keterangan |
|---|---|---|
| Total SMA, SMK, dan MA | 4.088 sekolah | Di Jawa Timur |
| Sekolah rawan bencana tinggi | 3.645 sekolah | Setara 89,2 persen |
| Sekolah dengan pelatihan SPAB | 95 sekolah | Setara 2 persen |
| Peserta TOF SPAB | 50 guru | Perwakilan 38 kabupaten dan kota |
Kolaborasi yang dinilai penting
Ketua IGI Jawa Timur Sukari menyambut baik langkah tersebut dan menilai kolaborasi rutin antara BPBD Jawa Timur dan para guru perlu terus diperkuat. Menurut dia, guru adalah ujung tombak pendidikan sekaligus pihak yang paling berpeluang menggerakkan perubahan di sekolah.
Dengan bekal pengetahuan kebencanaan yang lebih baik, satuan pendidikan diharapkan bisa menjadi tempat belajar yang lebih aman dan nyaman. Upaya ini menjadi penting karena mayoritas sekolah menengah di Jawa Timur masih berada di wilayah rawan bencana, sementara jumlah sekolah yang siap menghadapi keadaan darurat masih sangat kecil.
Source: mediaindonesia.com






