Isu Taiwan kembali muncul sebagai titik paling rawan dalam hubungan China dan Amerika Serikat setelah Xi Jinping memberi sinyal keras kepada Donald Trump. Beijing menilai persoalan ini bukan sekadar sengketa diplomatik, melainkan faktor yang dapat menyeret kedua negara ke benturan militer bila tidak ditangani dengan sangat hati-hati.
Peringatan itu disampaikan Xi dalam pertemuan tingkat tinggi di Balai Agung Rakyat, Beijing. Kantor berita resmi Xinhua melaporkan bahwa Xi menekankan stabilitas hubungan bilateral hanya bisa terjaga jika persoalan sensitif dikelola dengan benar.
Taiwan disebut garis merah Beijing
Bagi China, Taiwan menempati posisi yang sangat berbeda dari isu luar negeri biasa. Xi menyebut Taiwan sebagai masalah paling penting dalam hubungan China-AS, sekaligus menegaskan bahwa perdamaian di Selat Taiwan tidak bisa berjalan seiring dengan dorongan kemerdekaan yang didukung kekuatan asing.
Pemerintah China juga terus menolak dukungan senjata Amerika Serikat kepada Taiwan. Beijing memandang langkah itu sebagai pelanggaran terhadap prinsip “Satu China” dan sebagai tindakan yang dapat memperburuk situasi di kawasan yang sudah sensitif.
Xinhua mengutip Xi yang memberi gambaran tegas soal risikonya. Jika persoalan Taiwan ditangani dengan benar, hubungan bilateral dapat tetap stabil secara keseluruhan, tetapi jika tidak, kedua negara dapat masuk ke benturan yang membahayakan seluruh relasi mereka.
Dukungan senjata AS menambah panas suasana
Ketegangan terbaru juga dipicu rencana dukungan militer Amerika Serikat untuk Taiwan. The New York Times melaporkan bahwa sekelompok senator bipartisan mendesak Trump agar segera melanjutkan paket penjualan senjata senilai 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp245,3 triliun.
Paket itu disebut tertunda berbulan-bulan di Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Langkah tersebut membuat isu pertahanan Taiwan kembali menjadi perhatian utama dalam persaingan strategis Washington dan Beijing.
Sebelumnya, Washington juga telah menyetujui penjualan senjata senilai 11 miliar dolar AS kepada Taiwan pada tahun lalu. Keputusan itu langsung memicu protes keras dari Beijing dan mempertegas bahwa setiap penguatan pertahanan Taiwan yang didukung AS dipandang sebagai campur tangan langsung oleh China.
Pembicaraan Xi dan Trump tidak berhenti di Taiwan
Pertemuan Xi dan Trump juga disebut menyentuh ketegangan di Timur Tengah. Selain itu, kedua pihak turut membahas sengketa perdagangan dan tarif impor yang masih membebani hubungan kedua negara.
Trump sebelumnya menyatakan niat untuk membahas secara terbuka dukungan AS terhadap pertahanan Taiwan dalam pertemuan dengan Xi. Sikap itu menunjukkan bahwa Taiwan tetap berada di pusat perhitungan politik dan keamanan antara dua kekuatan besar tersebut.
China menilai stabilitas dan perdamaian di Selat Taiwan merupakan kepentingan bersama yang sangat besar bagi Beijing dan Washington. Namun peringatan Xi memperlihatkan bahwa kesabaran China terhadap intervensi militer AS di kawasan itu berada pada titik yang sangat sensitif.
Dampak yang bisa meluas ke luar Asia Timur
Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak akan berhenti di sekitar Taiwan saja. Konflik terbuka antara dua kekuatan militer terbesar di dunia berpotensi mengguncang keamanan dan ekonomi global, terutama bila isu Taiwan terus dipakai sebagai arena unjuk kekuatan.
Karena itu, peringatan Xi menambah tekanan pada hubungan Beijing dan Washington yang sejak lama dibayangi persaingan strategis, perdagangan, dan keamanan regional. Di tengah kondisi tersebut, Taiwan tetap menjadi ujian paling berbahaya bagi stabilitas kedua negara.
