UDNG Kembali Diperdagangkan, Kenaikan 10 Persen Belum Hilangkan Risiko Likuiditas

Author: Redaksi Android62

Perdagangan saham PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG) kembali dibuka oleh PT Bursa Efek Indonesia atau BEI mulai sesi pertama pada Jumat, 17 April. Saham ini sebelumnya dihentikan sejak 7 April setelah mengalami penurunan harga kumulatif yang tajam.

Meskipun kini kembali masuk ke pasar reguler dan pasar tunai, status tersebut belum membuat risikonya hilang. Saham dengan likuiditas tipis tetap bisa bergerak cepat dan sulit dibaca, sehingga minat beli sesaat tidak otomatis berarti kondisi perdagangan sudah aman.

Perdagangan kembali aktif, tetapi pasar masih perlu waspada

Keputusan BEI mencabut suspensi dilakukan setelah Bursa menilai kondisi perdagangan UDNG sudah layak dibuka lagi. Langkah ini menandakan bahwa jeda perlindungan investor yang sebelumnya diterapkan dinilai cukup untuk menghentikan tekanan pasar yang terlalu kuat.

Suspensi sempat diberlakukan karena harga saham turun sangat tajam dalam waktu singkat. Dalam keadaan seperti itu, Bursa biasanya menahan transaksi agar pasar mendapat jeda dan investor tidak terburu-buru mengambil keputusan di tengah gejolak harga yang ekstrem.

Lonjakan 10 persen tidak otomatis mengubah gambaran risiko

Di perdagangan terakhir yang menjadi sorotan, saham UDNG sempat ditutup menguat 10 persen ke level Rp 825. Namun, kenaikan itu belum tentu mencerminkan perbaikan yang mendasar, karena volume transaksi masih terbatas.

Pergerakan seperti ini kerap muncul pada saham yang kurang likuid. Harga bisa terdorong naik oleh antrean beli yang kecil, sementara kedalaman pasar belum cukup kuat untuk menjaga arah pergerakan secara stabil.

Likuiditas tipis tetap menjadi perhatian utama

Senior Investment Specialist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai UDNG masih menyimpan risiko besar karena likuiditasnya rendah. Ia mengingatkan bahwa tekanan jual tetap bisa muncul setelah perdagangan kembali aktif.

Menurut Nafan, investor bisa terjebak pada posisi yang sulit dilepas jika saham tidak likuid. Karena itu, ia menekankan agar investor ritel tidak hanya terpancing oleh kenaikan harga sesaat dan lebih memprioritaskan saham dengan likuiditas yang baik.

“Kalau misalnya bagi investor sih sebaiknya ke saham likuiditas ya,” ujarnya saat membahas kondisi UDNG.

FCA dinilai membantu meredam gejolak

Investment Specialist Korea Investment dan Sekuritas Indonesia, Azharys Hardian, melihat situasi UDNG dari sisi yang berbeda. Menurut dia, keberadaan saham di papan Full Call Auction atau FCA justru dapat membantu menahan pergerakan harga liar pada saham dengan likuiditas terbatas.

Azharys menyebut minat beli terhadap UDNG cukup kuat, dengan antrean yang dikabarkan mencapai di atas 160.000 lot. Dalam kondisi seperti itu, pembukaan perdagangan dinilai bisa berlangsung lebih tertib dibandingkan saham yang tidak memiliki permintaan memadai.

Ia juga menjelaskan bahwa FCA membuat proses penemuan harga berjalan bertahap. Dengan empat sesi matching pada hari Jumat, harga dinilai bisa terbentuk lebih terukur dan memberi gambaran likuiditas yang lebih jelas bagi pelaku pasar.

Indikator yang perlu dicermati saat saham dibuka lagi

Saat perdagangan kembali berjalan, investor perlu melihat beberapa indikator teknis agar membaca kondisi pasar lebih akurat. Indikator tersebut bisa membantu menilai apakah harga terbentuk secara wajar atau hanya terdorong antrean sesaat.

  1. Indicative Equilibrium Price atau IEP, yang menunjukkan estimasi harga keseimbangan.
  2. Indicative Equilibrium Volume atau IEV, yang menunjukkan estimasi volume transaksi.
  3. Antrean beli dan jual, untuk membaca kekuatan permintaan dan penawaran.
  4. Frekuensi transaksi, untuk menilai apakah saham benar-benar likuid.

Selama volume belum stabil dan antrean pasar masih didominasi satu sisi, risiko pada UDNG tetap perlu dicermati ketat. Bursa sudah membuka kembali perdagangan, namun pasar masih akan menentukan apakah saham ini bisa membangun likuiditas yang sehat atau kembali bergerak liar karena transaksi yang tipis.

Berita Terbaru