Kuwait Diserang Dua Hari Beruntun, Konflik AS-Iran Menjalar ke Teluk

Author: Redaksi Android62

Serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik dan pengolahan air di Kuwait berlanjut selama dua hari berturut-turut hingga memicu kebakaran. Peristiwa itu memperlihatkan dampak konflik AS-Iran yang kini meluas ke infrastruktur vital negara-negara Teluk.

Kementerian Luar Negeri Kuwait menyebut serangan tersebut sebagai serangan langsung terhadap infrastruktur sipil penting. Pemerintah Kuwait menilai tindakan itu melanggar hukum internasional, Piagam PBB, serta Resolusi Dewan Keamanan PBB 2817.

Kuwait juga menyatakan Iran memikul tanggung jawab hukum dan moral atas serangan terhadap fasilitas tersebut. Di saat yang sama, Teheran menyampaikan klaim telah menyerang sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di wilayah Kuwait.

Sasaran Militer yang Diklaim Iran

Militer Iran menyatakan drone mereka menghantam gudang amunisi di Camp Udairi. Teheran juga mengaku menyasar radar Patriot dan sistem pengawasan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem.

Iran menggambarkan operasi itu sebagai respons atas peningkatan serangan terhadap wilayahnya selama lebih dari sepekan. Menurut Teheran, gempuran sebelumnya turut mengenai bandara, stasiun kereta api, dan jembatan di Iran.

Lokasi Peristiwa Keterangan
Kuwait Serangan drone Iran Camp Udairi serta Pangkalan Udara Ali Al Salem disebut sebagai sasaran
Yordania Pencegatan rudal Tiga rudal Iran dilaporkan melintas dan dicegat pada Minggu
Bahrain Pencegatan serangan Pertahanan udara menghancurkan sejumlah serangan yang dikaitkan dengan Iran
Iran Serangan udara AS Washington menyebutnya balasan atas serangan di Yordania

Pertahanan Udara Diperketat

Dampak eskalasi tidak hanya dirasakan Kuwait. Yordania melaporkan telah mencegat tiga rudal Iran yang melintas di wilayahnya pada Minggu.

Militer Israel menyatakan bekerja bersama militer Yordania untuk mencegat sebuah rudal yang mengarah ke kota pelabuhan Aqaba. Sirene peringatan turut terdengar di sejumlah wilayah Yordania selama ancaman berlangsung.

Kementerian Luar Negeri Yordania kemudian memanggil kuasa usaha Iran di Amman untuk menyampaikan protes. Iran belum mengonfirmasi adanya serangan yang melintasi wilayah Yordania tersebut.

Kedutaan Besar AS di Amman sebelumnya telah memperingatkan warga negaranya mengenai ancaman terhadap pelabuhan dan bandara Aqaba. Peringatan itu muncul ketika kawasan menghadapi peningkatan risiko serangan rudal dan drone.

Di Bahrain, militer setempat menyatakan pertahanan udara berhasil mencegat dan menghancurkan sejumlah serangan Iran. Bahrain menuduh serangan tersebut menyasar warga sipil, sehingga menambah daftar negara kawasan yang terdampak konflik.

Balasan AS Setelah Insiden di Yordania

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Iran pada Minggu, 19 Juli, sebagai balasan atas serangan rudal balistik dan drone Iran di Yordania. Komando Pusat militer AS atau CENTCOM menyebut dua personelnya tewas dalam insiden pada Jumat, 17 Juli.

Seorang personel AS lainnya masih dinyatakan hilang setelah serangan di Yordania. CENTCOM menyatakan operasi balasan itu ditujukan untuk menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC yang dinilai berada di balik serangan tersebut.

Serangan pada Minggu menjadi bagian dari operasi militer AS terhadap Iran yang telah berlangsung selama delapan malam berturut-turut. Seorang tentara AS juga tewas di Irak utara pada Sabtu, 18 Juli, saat melakukan peledakan terkendali terhadap amunisi dari drone Iran yang sebelumnya ditembak jatuh.

Dengan insiden di Irak utara, jumlah personel militer AS yang dipastikan tewas sejak perang dimulai mencapai 16 orang. AS dan Israel memulai perang dengan menyerang sejumlah sasaran di Iran pada 28 Februari, sebagaimana dilaporkan Liputan6.com.

Perselisihan Selat Hormuz

Organisasi Energi Atom Iran atau AEOI juga menuduh AS menyerang pembangkit listrik tenaga nuklir Darkhovin yang masih dibangun di barat daya Iran. Lembaga itu menyatakan fasilitas tersebut terkena sejumlah proyektil dan menyebut serangan itu bertentangan dengan hukum internasional.

Konflik kembali memanas setelah kesepakatan awal untuk mengakhiri perang gagal dicapai. Kedua pihak kini berada dalam kebuntuan terkait Selat Hormuz, jalur penting bagi pasokan minyak dunia.

Source: www.liputan6.com
Berita Terbaru