Pariwisata Dan Ekonomi Syariah Jadi Andalan Baru Jateng, Didorong Menuju Pertumbuhan 2027

Author: Redaksi Android62

Jawa Tengah mulai menata dua sektor sekaligus untuk mengejar laju ekonomi ke 2027, yakni pariwisata dan ekonomi syariah. Keduanya diposisikan sebagai penggerak baru yang diharapkan mampu membantu provinsi ini mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di kisaran 5,6 hingga 7,4 persen, bahkan didorong menembus 8 persen.

Arah itu mengemuka dalam Rembug Pembangunan Jawa Tengah 2026 di Pendopo Kabupaten Kudus, Selasa (26/5/2026). Forum tersebut dihadiri kepala daerah dan Forkopimda wilayah eks Karesidenan Jepara, Kudus, Pati, Rembang, dan Blora atau Jekuti-Banglor.

Pariwisata jadi tumpuan yang paling cepat bergerak

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menilai pariwisata punya efek berganda bagi ekonomi daerah. Sektor ini tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menggerakkan UMKM, ekonomi kreatif, hingga investasi.

Data Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan ekonomi pada 2025 mencapai 5,37 persen. Salah satu penopangnya datang dari sektor pariwisata, terutama pada penyediaan akomodasi serta makan dan minum yang tumbuh hingga 10,60 persen.

Kontribusi pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah juga terus naik dalam empat tahun terakhir. Angkanya tercatat 3,29 persen pada 2022, lalu naik menjadi 3,40 persen pada 2023, 3,56 persen pada 2024, dan 3,74 persen pada 2025.

Lonjakan kunjungan wisatawan ikut memperkuat peran sektor ini. Dari 46,6 juta orang pada 2022, jumlah wisatawan naik menjadi 74,4 juta orang pada 2025 atau meningkat sekitar 59,73 persen.

Desa wisata disiapkan untuk pemerataan ekonomi

Pemprov Jateng juga mendorong pengembangan desa wisata sebagai jalan pemerataan ekonomi berbasis potensi lokal. Dalam skema ini, setiap daerah didorong punya daya tarik yang bisa dikelola lebih terarah dan memberi manfaat langsung ke warga.

Kabupaten Kudus, Pati, Rembang, dan Blora masing-masing ditargetkan membentuk 30 desa wisata baru. Sementara itu, Jepara menargetkan tiga desa wisata baru.

Dalam hasil Rakortekrenbang Wilayah Pengembangan Jekuti-Banglor, Kudus diproyeksikan menjadi pusat kunjungan wisata terbesar dengan target sekitar 3,7 juta wisatawan pada 2027. Rembang menargetkan hampir 3 juta kunjungan, Jepara sekitar 2,4 juta wisatawan, sedangkan Blora dan Pati masing-masing sekitar 1,2 juta dan 1,1 juta wisatawan.

Luthfi menegaskan bahwa pembangunan wisata tidak cukup berhenti pada pembangunan destinasi baru. Pengelolaan desa wisata yang sudah ada juga harus dijaga agar tetap terawat dan benar-benar memberi dampak ekonomi di tingkat lokal.

Ia juga menyebut ada dana dari provinsi yang digelontorkan ke masing-masing kabupaten dan kota. Karena itu, pengawasan perlu dilakukan agar dana tersebut memunculkan kearifan lokal, termasuk lewat pengelolaan oleh karang taruna atau desa.

Ekonomi syariah ikut didorong naik kelas

Selain pariwisata, ekonomi syariah mulai diposisikan sebagai sektor strategis yang diharapkan menopang pertumbuhan Jawa Tengah ke depan. Potensi industri halal dan wisata religi di berbagai daerah menjadi salah satu alasan sektor ini masuk agenda penguatan ekonomi daerah.

Langkah ini menunjukkan strategi Jateng yang tidak hanya bertumpu pada sektor tradisional. Pemerintah provinsi mencoba menggabungkan potensi wisata, industri halal, dan penguatan basis lokal agar pertumbuhan tidak hanya terkonsentrasi di kota besar.

Di sisi lain, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengingatkan agar pembangunan daerah benar-benar memberi dampak pada kesejahteraan masyarakat. Ia menekankan pentingnya pembukaan lapangan kerja dan penurunan angka pengangguran.

Sarif menilai pembangunan tidak boleh berhenti sebagai rutinitas administratif. Menurutnya, arah pembangunan harus terasa langsung pada ekonomi kemasyarakatan dan kerakyatan agar manfaatnya benar-benar sampai ke warga.

Dengan dorongan pada pariwisata, desa wisata, dan ekonomi syariah, Jawa Tengah kini menyiapkan dua sektor yang dianggap paling siap memberi dorongan baru bagi pertumbuhan. Keberhasilannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan daerah menjaga pengelolaan wisata, memperkuat kearifan lokal, dan memastikan manfaat ekonomi mengalir ke masyarakat.

Source: mettanews.id
Berita Terbaru