Target investasi periode 2025–2029 dipasang jauh lebih tinggi, yakni di atas Rp13.000 triliun. Angka ini menjadi sinyal bahwa pemerintah tetap menempatkan investasi sebagai penggerak utama ekonomi, meski situasi global masih dipenuhi ketegangan geopolitik dan geoekonomi.
Di saat tekanan eksternal belum mereda, minat investor asing terhadap Indonesia justru belum surut. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani menyebut ketertarikan itu masih kuat saat melaporkan realisasi investasi kuartal I tahun 2026 kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada Selasa (21/4).
Minat investor asing masih terjaga
Rosan mengatakan percakapan dengan para pemimpin bisnis di sejumlah negara maju Asia memberi gambaran yang positif. Indonesia tetap masuk dalam radar investor sebagai lokasi yang dinilai menjanjikan untuk menanamkan modal.
Menurut Rosan, ketertarikan itu tidak hanya muncul dalam forum besar, tetapi juga dalam diskusi yang lebih terbatas bersama pelaku usaha. Ia menilai, kondisi dunia yang dipenuhi perang, konflik geopolitik, dan tekanan geoekonomi tidak otomatis mengurangi minat terhadap Indonesia.
“Terlepas dari keadaan sekarang, perang, geopolitik dunia, dan geoekonomi dunia, ternyata minat dan ketertarikan mereka untuk berinvestasi di Indonesia sangat tinggi, masih sangat baik,” kata Rosan.
Pernyataan itu menjadi penting karena pemerintah sedang berupaya menjaga kepercayaan investor asing agar Indonesia tetap kompetitif. Dalam persaingan global yang makin ketat, daya tarik investasi dinilai tidak boleh melemah hanya karena ketidakpastian di luar negeri.
Komitmen besar dari Asia Timur
Selain minat umum dari investor global, Rosan juga menyoroti besarnya komitmen investasi dari mitra utama Indonesia di Asia Timur. Jepang tercatat memiliki potensi investasi mendekati USD 30 miliar, sedangkan Korea Selatan berada di kisaran USD 10 miliar.
Aliran modal dari Tiongkok juga disebut masih konsisten dan ikut memperkuat optimisme pemerintah terhadap prospek ekonomi nasional. Kehadiran tiga sumber investasi ini menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki posisi strategis di kawasan.
Bagi pemerintah, kesinambungan minat dari Asia Timur bukan hanya soal angka. Arus modal tersebut juga dipandang penting untuk memperkuat basis industri dan membuka lebih banyak peluang kerja sama ekonomi di dalam negeri.
Target besar hingga 2029
Di tengah meningkatnya target nasional, pemerintah menyiapkan sasaran realisasi investasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Untuk periode 2025–2029, target dipatok di atas Rp13.000 triliun, naik signifikan dari capaian sepuluh tahun sebelumnya yang berada di level Rp9.100 triliun.
Kenaikan target itu menunjukkan bahwa investasi masih diposisikan sebagai instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah juga ingin memastikan pembangunan nasional tetap memiliki dukungan pendanaan yang kuat dalam lima tahun ke depan.
Rosan mengakui lonjakan target tersebut cukup besar, tetapi ia tetap optimistis sasaran itu bisa dicapai. “Peningkatannya memang cukup signifikan, tetapi alhamdulillah target-target tersebut masih dapat tercapai. Kami berharap hal ini dapat terus terjaga,” ujarnya.
Momentum yang ingin dijaga
Laporan kepada Presiden Prabowo memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya melihat tantangan global, tetapi juga peluang yang masih terbuka. Di satu sisi, dunia masih dibayangi ketegangan, namun di sisi lain Indonesia tetap berhasil mempertahankan daya tarik di mata investor internasional.
Gabungan antara komitmen investasi dari negara-negara Asia Timur dan target nasional yang besar membuat sektor ini tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah kini berupaya menjaga agar minat yang sudah tinggi itu tidak berhenti di level wacana, melainkan benar-benar berubah menjadi realisasi investasi di lapangan.
