Nadiem Makarim mengaku pernah menambah gaji staf khusus menteri dari kantong pribadinya. Tambahan itu disebut berada di kisaran Rp15 juta sampai Rp20 juta per bulan untuk para staf khusus menteri atau SKM.
Pernyataan tersebut muncul saat dirinya diperiksa dalam persidangan yang juga menyorot perkara dugaan korupsi pengadaan Chromebook di Kemendikbudristek. Di tengah sorotan atas kasus besar itu, Nadiem justru menjelaskan alasan internal mengapa ia pernah memberi tambahan penghasilan kepada para stafnya.
Alasan tambahan gaji untuk staf khusus
Jaksa penuntut umum menanyakan pola pemberian gaji tambahan kepada lima staf Nadiem, termasuk Jurist Tan, Dei Sudarmo, dan Fiona Handayani. Nadiem menjawab bahwa uang pribadi itu diberikan untuk membantu kebutuhan hidup staf yang tidak menerima honor tambahan seperti pejabat struktural.
Ia menjelaskan bahwa para SKM mengalami penurunan penghasilan yang besar ketika bergabung dengan Kemendikbudristek. Menurut Nadiem, penurunan itu mencapai 80 persen, lalu masih turun sekitar 40 persen meski sudah ditutup dengan tambahan yang ia berikan.
Meski penghasilan mereka berkurang tajam, Nadiem menyebut para staf tetap memilih bertahan. Ia mengatakan hal itu terjadi karena adanya misi pendidikan yang dijalankan bersama.
Nominal yang disebut Nadiem di persidangan
Saat ditanya lebih rinci, Nadiem mengaku tidak ingat angka persis yang ia keluarkan setiap bulan. Namun, ia tetap menyebut kisaran nominal yang selama ini diberikan berada di angka Rp15 juta sampai Rp20 juta untuk seluruh SKM.
Keterangan itu disampaikan dalam persidangan pada Senin, 11 Mei 2026. Penjelasan tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan terkait peran staf pribadi di lingkungan kerja Kemendikbudristek.
Masih dalam bayang-bayang perkara Chromebook
Pengakuan soal tambahan gaji itu tidak berdiri sendiri karena muncul ketika perkara pengadaan Chromebook periode 2019-2022 masih berjalan. Dalam kasus tersebut, Nadiem Makarim bersama terdakwa lain didakwa merugikan negara Rp2,1 triliun.
Jaksa juga menyebut ada 25 pihak, baik perorangan maupun perusahaan, yang ikut diperkaya dalam perkara itu. Salah satu nama yang disebut adalah Nadiem Makarim dengan nilai Rp809 miliar.
Nadiem membantah tudingan tersebut dan menolak anggapan bahwa uang ratusan miliar itu terkait pengadaan Chromebook. Ia menegaskan angka itu berasal dari aksi korporasi antara Google dan Gojek, bukan dari proyek pengadaan di Kemendikbudristek.
Sorotan pada posisi staf khusus di kementerian
Keterangan Nadiem soal uang pribadi memberi gambaran lain tentang bagaimana staf khusus bekerja di lingkungan kementerian. Ia menyampaikan bahwa perubahan penghasilan bisa sangat tajam saat seseorang berpindah ke jabatan tersebut.
Dalam kasus para staf yang disebut di persidangan, alasan pengabdian dan misi pendidikan disebut menjadi faktor yang membuat mereka tetap bertahan. Di saat yang sama, penghasilan yang menurun jauh tetap menjadi latar penting dari penjelasan Nadiem di ruang sidang.
Source: www.viva.co.id